Lama



Lama kali ga ngobrol sama manusia satu ini. Yang kujanjikan hidup tanpa huru hara warisan kalau jadi iparku wkwkwk. Baru tadi malam kujanjikan. Kata dia, oke. 


Lama juga ternyata, dia masih terpikir makhluk satu lagi. Yang disukai bocah-bocah, Om Tante, dan mbah-mbah. Padahal tak ada satupun memori yang mereka buat bersama selain cerita-cerita yang kuberi pelet. Sedikit. 


Lin, hidup ini memang tempatnya lelah. Termasuk lelah menanti, termasuk lelah memberi makna, termasuk lelah menjalani dulu tanpa tahu kemana setelah ini. Semua lelah itu akan terbayar, lalu datang lelah-lelah yang lain lagi. 


Lin, kalau kita dulu pernah ingin hidup bertetangga di atas gunung, memberi anak-anak kita nama aneh-aneh yang kita karang-karang saja, sementara di usia berumah tangga saat ini belum terlihat hilalnya, mungkin kita bisa mintakan pada Allah di surga. Ya Allah, boleh ga, rumah kita dempetan, surga yang seluas langit dan bumi itu, digabung jadi satu aja Ya Allah, terimakasih 🙏. 


Lin, kalau dulu kubilang jangan nangis kasian matanya, sepertinya salah. Nangis aja, Lin, kasian kepalamu menanggung terlalu banyak. Kasihan tulang rusukmu kalau hatimu sesak. Nanti cinta orang-orang baik di sekitarmu tidak bisa kamu terima. 


Lin, memang kepala dan kata ini tidak pandai menerjemahkan rasa. Rasa-rasanya aku sudah mulai menerjemahkan perasaanku sejak tadi malam, tapi sampai malam ini itu-itu saja yang bisa ku tuliskan. 


Pokoknya Lin, mengeluhlah sebanyak yang kamu mau. Di chat wa ku boleh, di mesengger yang berdebu itu boleh, dimana pun boleh. Tergantung sedang butuh apa dalam keluhmu itu. Termasuk soal mas-mas gondrong yang makin gendut itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME