Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Raja diatas segala raja

 Mungkin ini PMS.  Pagi hari ku lewati seperti biasanya. Hari Sabtu waktunya pulang ke uti. Meneriaki anak-anak yang tak kunjung siap. Berakhir di motor beriringan. Hanya bawa badan, eh, dan sampah yang kubuang di TPA pinggir jalan.  Sampai Triwung, ada polisi. Ternyata karnaval!  Nuun, liat ke kiri!  Pengetahuan baru ini, dalam hatiku.  Bapak ibu guru pakai merah putih, anak-anak berkreasi. Tidak banyak. Bawa banner, bendera. semakin ke depan, semakin tertata, jogetannya.  Tes.  Tes Dua tetes, lanjut tiga, empat, mengalirlah airmataku. aku mbrebes! Ngapaaiin? Sudut hatiku bertanya. Sakit hatiku. Kata sebelahnya.  Karna karnaval? Biasanya aku suka aja karnaval, apalagi jika kreatif, santun, ada perspektif baru.  Tapi melihat karnaval seuprit ini hatiku sakit. Yang pakai kostum tidak sampai lima baris, pemandunya memandu joget, anak-anak polos itu berjalan seperti bebek mengikuti barisan depannya.  Kemudian muncul cacing yang ditarik...

ROMANTISME

Gambar
Romantisme mbok-mbok baru 7 tahun,  Melihat punggungnya dari motor belakang Kakinya kadang menghalau ayam yang kupingnya tidak dengar klakson Tapi Rasanya seperti dilindungi dari semburan gunung meletus Juga asyik tin tin mendahului pick up yang lambat Tapi rasanya seperti dibukakan jalan oleh pengawal pejabat Sebelum berangkat, sibuk tanya kaya orang tua, "dek, pakai motor yang mana?"  Padahal aku sudah ahli bawa karung dan 2 anak di tebing jurang "Dek, lebih enak bawa anak apa barang? Eh sini dah, biar di dudukin Ahmad" Akhirnya aku hanya bawa badan "Waktunya beli mobil ini, kapan ya kita ada tabungan" Ingin rasanya ku sumbang dengan uang logam kembalian Tidak seperti di film-film, harusnya menikah itu baru intro, Resolution nya di akhir hayat, Klimaksnya tergantung aktris  Meletakkan pernikahan di akhir and happily ever after adalah kesalahan terbesar, benar adanya dunia nyata lebih seru daripada dunia fiksi, kata penulis.  Menyimpulkan punggung dari mo...