Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Ibu Kami Semua

Gambar
 Kami semua anaknya,  Seperti kakung, mbahuti juga ibu semua orang. Bu In yang di Jimbe, Bu In guru RA, Bu In ibunya wahyu, Ibu, Mbahibu, mbah In nya pak cip. Mereka tidak lahir dari rahimnya.   Menjaga umi, lalu aku,  lalu maryam. Huruf baca pertama kami semua dari mbahuti.  Mbahuti yang suka marah-marah tapi mudah menangis. Ditangannya, semua biji bertumbuh, semua bunga berbuah. Mbahuti yang tidak punya rasa lelah. Mbahuti yang teriak-teriak karena takut kami terluka. Seperti kakung, masa kecilku habis bersama mbahuti. Ikut mengajar di RA, mengantar aku sekolah, berangkat naik angkot, pulang naik dokar. Atau naik vespa tosca yang tak pernah menyalip itu. Beli baju baru, belajar membaca buku, belajar menulis, menyanyi sepanjang hari selalu lebih seru bersama mbahuti. Bepergian bersama mbahuti dijamin tidak akan lapar, tidak khawatir baju basah, tasnya seperti kantong doraemon.  Kami sering kesal soal teriak-teriaknya, marah-marahnya, ketakutan-ketakut...

Cinta Pertamaku Itu

 Cinta pertamaku bukan dia, sibiru entahlah Bukan pula ayahku Cinta pertamaku,  dia yang keras tapi pendengar terbaik Yang tak ada debu setitik pun di bajunya Yang kaos dalamnya harus disetrika Yang simetri sarung dan celananya Yang anak cucunya harus belajar hingga tua Yang menyambungkan silaturrahim keluarganya Yang dicintai tetangganya Yang dicintai orang dimana mana Ditangisi orang entahlah dari atas gunung kidul sana Senang sekali bagi aku yang buta jalan ini Tinggal bilang, "cucunya mbah cip, cucunya mbah mo" Yang keras tapi dicintai ibunya Dalam diam membonceng umi kecil Mencuci, masak, mengeramasi mbah buyut setiap hari Setiap hari pula terlambat mengajar Dimarah kepala sekolah bukan apa-apa Masa kecilku habis bersamanya Naik vespa tosca dipinggir jalan Saking lambatnya hampir tidak pernah menyalip selalu aku tidur terduduk diantara kakinya Naik onthel berkeliling Jangan lupa kaki ditali kedepan Kau boleh marah padanya, jangan pada ibumu  Kau boleh membantahnya, j...

Sudahlah

 Sudahlah, kalau langit biru bersama pelangi Duniamu ya disana sana saja Biar aku makan coklat disini Bersama bayi-bayi yang kucintai Jangan datang di malam hari Langit tetap langit, tapi hitam Birumu tak punya tempat lagi Apalagi pelangi, hilang ditelan legam Biar aku makan coklat disini,  Gosok gigi sebelum tidur Lalu meninabobokan diri Jangan datang, sungguh Masamu telah lalu Harusnya hilang ditelan ingatan baru Biarkan aku bertumbuh tanpa sendu Aku, gadis kecil yang tumbuh Menjadi ibu

Rangkul Aku

 Ya Allah, walaupun sulit, harus menangis, harus marah, lindungi aku tetap di jalanMu Walaupun aku bilang tak sanggup, walaupun aku ingin menyerah, bimbing aku tetap dijalanMu Walaupun aku berlumur dosa, walaupun aku bertaubat tak tuntas, terima aku tetap di jalanMu Sedikit saja ujianMu aku sudah lemah, tergoda menyerah Enak sekali dia bisa begini begitu Aku harus begini begitu Tapi denganMu, lemahku bukan apa-apa Jika aku memilih pergi, lalu hilang dari pandangMu,  Apa yg tersisa untukku?  Kata mereka,  biar aku masuk surga dengan cara yang lain.  Masa Tuhan marah, begitu saja?  Tapi Ya Allah, aku ingin dipihakMu. Meski Engkau tak butuh aku. Bolehlah, seperti semut yang mencari air, memadamkan api nabi Ibrahim.  Aku, yang sekecil semut, memohon rangkulan TanganMu Yang Maha Agung. 

Ruang

Gambar
 Di ruang ini, 6 tahun yang lalu Sosokmu hanya serpihan yang ku taburkan Lalu kugunjingkan dengan diriku yang lain Semakin kutertawakan semakin tak bisa tertawa Serpihanmu yang tidak tajam itu menyapu ruang ruang di dalam sana Tak pernah menusuk, hanya mengusap Tak pernah menggebrak, hanya masuk diam-diam Lalu aku diam-diam nyaman Hari ini lima menit yang lalu,  Jauhmu disana malah mendebarkan hati Kau yang menggenggamku dengan caramu sendiri, Penuhi ruang di dalam sana Untuk dirimu sendiri Rindu tentangmu tak pernah pergi~