Cinta Pertamaku Itu

 Cinta pertamaku bukan dia, sibiru entahlah

Bukan pula ayahku


Cinta pertamaku, 

dia yang keras tapi pendengar terbaik

Yang tak ada debu setitik pun di bajunya

Yang kaos dalamnya harus disetrika

Yang simetri sarung dan celananya


Yang anak cucunya harus belajar hingga tua

Yang menyambungkan silaturrahim keluarganya

Yang dicintai tetangganya

Yang dicintai orang dimana mana

Ditangisi orang entahlah dari atas gunung kidul sana

Senang sekali bagi aku yang buta jalan ini

Tinggal bilang, "cucunya mbah cip, cucunya mbah mo"


Yang keras tapi dicintai ibunya

Dalam diam membonceng umi kecil

Mencuci, masak, mengeramasi mbah buyut setiap hari

Setiap hari pula terlambat mengajar

Dimarah kepala sekolah bukan apa-apa


Masa kecilku habis bersamanya

Naik vespa tosca dipinggir jalan

Saking lambatnya hampir tidak pernah menyalip

selalu aku tidur terduduk diantara kakinya

Naik onthel berkeliling

Jangan lupa kaki ditali kedepan


Kau boleh marah padanya, jangan pada ibumu 

Kau boleh membantahnya, jangan bantah ibumu

Di hari-hari sakitnya berkata "anak Cucuku harus islam. Model apa saja harus islam. Takut Tuhan."


Cinta pertamaku itu,

Melepasku meski berat, tetap bahagia

"bocah rung iso nyapu mok rabine"

Tentu saja maksudnya adalah menyapu dengan standarnya

Tetap mendengar abi dan umi bicara

Dan tahu aku bukan haknya


Cinta pertamaku itu, 

Mematut diri tersenyum, 

"aku wes pantes dadi buyut yo"

Tapi belum sempat kukenalkan maryam 

aku tahu maryam di perutku, tepat di hari dia berpulang

Maryam yang dicintai dan mencintai buyut-buyut dari ujung hingga ujung gang

Maryam yang semoga seperti dia, dicintai semua orang 


Al fatihah untuk mbahkung 

Jatma Altjipta Utama



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

ROMANTISME