Waris, Ali, dan Tembok Dapur
Di suatu sore sya'ban, aku mengupas bawang untuk stok bumbu bulan Ramadhan. Lalu, bapak itu, yang sedang ada proyek belajar waris, datang.
"Dek, tau ga?"
"Gatau, lupa."
"Ah, ga seru!"
"Apaaa? Bawa spidolnya kesini."
Dia lupa cara kerja sebagian pecahan, rumus-rumusnya. Ku coret-coret dinding dapur. Ku jelaskan sebentar. Dia paham.
"Kalau di waris itu, ada masalah yang pembilangnya lebih, kan gabisa dibagi itu. Masalahnya harta kan 1 bulat? Nah, biar mudah baginya, ditukar aja atas dan bawah."
"Aaah, jadi karna gitu? Susah-susah aku tanya ustadzah ku dulu, seandainya beliau kasih tau begitu, pasti aku mingkem. Panjang kita debat. 'kok asal dipindah ditukar? Hasilnya ga akan sama.' aaah, ternyata gitu."
Dia tertawa.
Adalagi, katanya. Dia ceritakan. Aku tertawa lagi atas kebodohanku dulu.
"Seru ya, belajar. Belajar lagi, kak. Nanti ajari aku."
"Jadi orang itu belajar sendiri." Seketika itu aku menyadari, tadi dia bukan bertanya, tapi meracuniku. Kalau aku ingin tahu, lalu rasa malasku lebih besar, siapa yang menyuapi kepoku ?
"Adalagi, ada perempuan dapat waris 1 dinar dari 360 dinar? Lupa, banyak pokoknya. Dia ga terima dong, dia datang ke Ali bin Abi Thalib. 'Ali, Qadhi itu dzalim Masa aku cuma dapat 1?' Ali jawab. 'dia ada ibu? Istri? 12 saudara laki-laki?' pokoknya dia sebutkan semua sehingga emang bagian dia hanya 1 dinar hahaha "
"Kaya soal olimpiade! Dikasih tahu asalnya, hasil ga masuk akal, disuruh cari." Ujarku.
"Nah, padahal dia tidak pakai rumus."
"Olimpiade pun lebih banyak hitung sendiri daripada rumus. Tapi Ali amat keren."
Aku tersenyum, mengupas bawang, membatin esok akan ku pelajari waris itu. Esok. Esok. Esok.
Atau seperti biasa, kusuruh dia belajar, lalu mengajari aku. Agar banyak pahalanya sebagai manusia terpandai di rumah ini.

Komentar
Posting Komentar