Ibu Kami Semua
Kami semua anaknya, Seperti kakung, mbahuti juga ibu semua orang. Bu In yang di Jimbe, Bu In guru RA, Bu In ibunya wahyu, Ibu, Mbahibu, mbah In nya pak cip. Mereka tidak lahir dari rahimnya. Menjaga umi, lalu aku, lalu maryam. Huruf baca pertama kami semua dari mbahuti. Mbahuti yang suka marah-marah tapi mudah menangis. Ditangannya, semua biji bertumbuh, semua bunga berbuah. Mbahuti yang tidak punya rasa lelah. Mbahuti yang teriak-teriak karena takut kami terluka. Seperti kakung, masa kecilku habis bersama mbahuti. Ikut mengajar di RA, mengantar aku sekolah, berangkat naik angkot, pulang naik dokar. Atau naik vespa tosca yang tak pernah menyalip itu. Beli baju baru, belajar membaca buku, belajar menulis, menyanyi sepanjang hari selalu lebih seru bersama mbahuti. Bepergian bersama mbahuti dijamin tidak akan lapar, tidak khawatir baju basah, tasnya seperti kantong doraemon. Kami sering kesal soal teriak-teriaknya, marah-marahnya, ketakutan-ketakut...