Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Maaf, Bagaimana Aku Harus...?

hari itu akan ujian. aku masih ingat. pertama kali ada yang menyapa. "hai, bolehkah ?" :-) lalu, sekarang jariku berhenti. lupa. Dia datang dengan baik. menyapa dengan agak baik. tetapi kembali padanya dengan tidak baik. Hari ini dia datang lagi. Menyiapkan amunisi yang jauh lebih baik. Dan tepat mengenai sasaran dengan luar biasa baik. Lalu... hal terbaik apa yang bisa ku kembalikan? Kupikir akan mudah. Untuk sedetik kemudian hal hal sulit datang memenuhi otakku, tiba-tiba. Ku pikir akan baik-baik saja. Untuk kemudian hal hal berat datang meminta pertimbangan. Apa yang membuatmu menyapa hari itu? sementara kau dan aku jaauh berbeda. Dalam segala hal. Dia pikir aku sudah bisa bangun, berdiri, dan berlari dengan baik. haish... ku tanya lagi, apa yang membuatmu datang menyapa?! maaf, biarkan aku berpikir. mungkin akan lama. :-(

See You Again

It’s been a long day without you, my friend Telah lama kulalui hari-hari tanpamu,kawan And I’ll tell you all about it when I see you again Dan aku kan menceritakan semua ini ketika aku bertemu denganmu lagi We’ve come a long way from where we began Kita telah berjalan jauh dari tempat kita memulai Oh, I’ll tell you all about it when I see you again Oh, aku akan menceritakan semua ini ketika aku bertemu denganmu lagi When I see you again Ketika aku bertemu denganmu lagi Why’d you have to leave so soon? Kenapa kau harus pergi secepat ini ? Why’d you have to go? Kenapa kau harus pergi ? Why’d you have to leave me Kenapa kau meninggalkanku when I needed you the most? Ketika aku masih sangat membutuhkanmu ? ‘Cause I don’t really know how to tell you Karena aku benar-benar tak tahu bagaimana cara memberitahumu Without feeling much worse Tanpa harus merasa terpuruk I know you’re in a better place Aku tahu kini kau di tempat yang lebih baik But it’s always gonna hurt Tetapi itu akan selalu ...

jelek

bagaimana aku bisa pergi dengan baik, jika keluar dari kamarmu saja sudah rindu? memaksa sekali untuk tetap melangkah. pada akhirnya aku menangis di bus, di terminal, di rumah. cincin talimu lepas tadi malam. aku ngelabang di terminal. jadinya jelek. aku ngga bisa. sepi, nak disini. ngga ada kawan. aku ngopi banyak film tapi ngga suka. siapa yang mau ikutan nonton? ngga enak sendirian. ada lagu jug ngga mau. dengar-dengarnya nganggur satu. aku ngga mau pake dua. disini ada bintang layang-layang tapi aku maunya bintang merah jelekmu. ngga ada yang mau di pencet bintangnya. kamu ngasih bintang yang ngga bisa di pencet-pencet. jelek. gantunganmu menakutkan. aku ngga suka. tulisanmu, suratmu jelek semua. ketauan ummi nangis. malu. ada tetangga belum salim. kata ibu ngga boleh terlalu dekat nanti bersedih? tapi aku butuh yang dekat buat pengangan, buat kembali, buat menangis, buat tertawa. nyatanya aku bahkan ngga punya ekspresi sekalipun sama kawan. keluarga. aku pernah bilang, rumah...

Bagaimana rasanya pergi?

Gambar
Sejak dulu, aku tak pernah berkawan dengan pergi. Bagaimana rasanya menuju tempat yang tak biasa? harus merapal ulang kata untuk menyapa. Merangkai lagi kenyamanan yang tertinggal. Menunggu kepergian hampa. Bagaimana jika aku lelah dan ingin kembali? sementara ruang dan waktu yang ku ingin sudah habis kulalui. Lalu kau menangis padahal kau menghemat air matamu. Lalu kau tidak merespon padahal kau.. entahlah. Lalu bagaimana aku bisa pergi dengan baik? Lalu hidup dengan baik. Lalu bertemu kau lagi jauh lebih baik. Pada akhirnya aku juga menangis. sekalipun menang taruhan denganmu, siapa yang menangis duluan. Huh, taruhan untuk menutupi pedih. boleh aku meminta senyummu sebelum pergi? meminta genggam tangan agar aku kuat? meminta tatap mata bersahabat agar aku baik baik saja? aku tahu disana jahat, berat. Sementara kau tak ada. Pada siapa aku harus datang tanpa kata untuk kemudian aku menangis? Aku tidak ingin pergi, sungguh. sementara ruang dan waktu tak mengijinkanku untuk tinggal...