Bagaimana rasanya pergi?

Sejak dulu, aku tak pernah berkawan dengan pergi. Bagaimana rasanya menuju tempat yang tak biasa? harus merapal ulang kata untuk menyapa. Merangkai lagi kenyamanan yang tertinggal. Menunggu kepergian hampa. Bagaimana jika aku lelah dan ingin kembali? sementara ruang dan waktu yang ku ingin sudah habis kulalui.

Lalu kau menangis padahal kau menghemat air matamu. Lalu kau tidak merespon padahal kau.. entahlah. Lalu bagaimana aku bisa pergi dengan baik? Lalu hidup dengan baik. Lalu bertemu kau lagi jauh lebih baik. Pada akhirnya aku juga menangis. sekalipun menang taruhan denganmu, siapa yang menangis duluan. Huh, taruhan untuk menutupi pedih.

boleh aku meminta senyummu sebelum pergi? meminta genggam tangan agar aku kuat? meminta tatap mata bersahabat agar aku baik baik saja? aku tahu disana jahat, berat. Sementara kau tak ada. Pada siapa aku harus datang tanpa kata untuk kemudian aku menangis?

Aku tidak ingin pergi, sungguh. sementara ruang dan waktu tak mengijinkanku untuk tinggal.

Tetangga..,



Komentar

  1. Pergi dengan baik, sekalipun menangis, sekalipun kau tak bisa menatap matanya isyarat kau tak bisa tinggal. Tetap pergilah dengan baik. Seburuk apapun. Karna semua awal bermula dari pergi.

    BalasHapus
  2. Pergi dengan baik, sekalipun menangis, sekalipun kau tak bisa menatap matanya isyarat kau tak bisa tinggal. Tetap pergilah dengan baik. Seburuk apapun. Karna semua awal bermula dari pergi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. percuma ca. aku pergi dengan sok baik. tidak menangis di depannya. keluar kamarnya saja sudah ingin kembali. memaksa sekali untuk tetap melangkah.
      pada akhirnya menangis di bus. di terminal. di rumah.

      Hapus
  3. bagaimana akubbisa pergi dengan baik?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME