Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kakak

Gambar
I love you to the moon and back Dia semakin tidak bisa dipuisikan Juga dikata-katakan Menghadiahi puisi untuk perjalanan seperempat abad ini adalah percuma Hingga menjadi debu Tetaplah berjalan menuntunku Lebih jauh menuju kebaikan Hingga menjadi asap Tetaplah menambah ayam Dalam nasi yang telah menjadi bubur I love you to the moon and back Bonus :D

Dari Ibu-Ibu Untuk Anak Manis 🤗

Allah ga pernah salah. Termasuk ngasih rizki, ujian, ganjaran, bahkan azab. Ada suatu masa dalam pencarian jati diri itu, merasa semua salah, mereka begini begitu, tugas2, target2, salah. Lalu aku harus bagaimana? Orang2 julid tiba2 bertebaran. Aku, susah move on. Bahkan pada sumpit. Percaya aku nangis gara2 sumpitku diambil adam. Apalagi pada kawan2 baik, sahabat2 dekat. Yang siang malam kutemui karena "bukan selamanya kita sama2." Maka sebelum ketiadaan itu hadir, hari2 ini harus kuhabiskan. Cerita banyak2, duduk banyak2, tertawa banyak2, nangis banyak2. Seribu kali hujan tengah malam, "kak, aku tengah malem hujan2an waktu itu... " terus besoknya ujian kan? Terus kamu pilek, terus ada ustadzah. Terus....  Iya iya, ga cerita lagi. Itu sumpek. Itulah kenapa aku memilih tidak merasa. Bukannya menerima dengan lapang hati.  Tapi hati yang mati. Menjadi menyebalkan. Menyakitkan. Dijauhi orang2. Karena menangis lama sepanjang hari setiap hari tidak menenangkan h...

Untuk Tuhannya Maryam Yang Maha Kuasa

Maryam yang Kau titipkan padaku itu Biarkan aku mencintainya dengan sangat Merawatnya dengan baik Biarkan dia mengenalMu lewat aku Agar teruntai doa doa nya untukku Sebagai penyambung amalku yang tak cukup Maryam yang Kau titipkan padaku itu Biarkan ia menjadi maryam milik imran Shalihah, kuat, cerdas, Kau berkahi seutuhnya Mengalir padanya setiap kebaikan milik Isa Maryam yang Kau titipkan padaku itu Boleh aku meminjamnya lama?

Terimakasih, Nun

Gambar
Nun,  terimakasih sudah percaya. Maafkan aku yang putus asa berkali-kali Aku tahu maryamku sungguh kuat. Ajari aku, nun. Esok, esok, esoknya lagi. (فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّی وَضَعۡتُهَاۤ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَیۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّی سَمَّیۡتُهَا مَرۡیَمَ وَإِنِّیۤ أُعِیذُهَا بِكَ وَذُرِّیَّتَهَا مِنَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ ٱلرَّجِیمِ) Ali imran : 36

Jangan, nun

Gambar
Jangan gantung aku, nun. Karena aku sudah terlanjur sayang. Apa karena aku menyambutmu dengan ragu? Lalu kau ragu pula menemuiku? Tapi kita sudah janji bertemu sejak dua minggu lalu... Atau hanya aku...? Kata kakak kau menunggu wahyu. Maka ku ketuk Pemberi wahyu. Belum dijawab, nun. Atau aku yang tak faham...? Nun,  jangan gantung aku. Sungguh. Karena kakak yang pemberani itu mulai takut. Lalu bagaimana denganku? Nun, kami sudah rindu. Apa kau sungguh ragu?

Maryam

Gambar
Nun, Jangan jadi umi. Jangan sungguh. Jadi maryam, yang suci. Jadi maryam, yang Allah berkati. Hidupnya, nun, sudah disembahkan untuk Allah. dititipkan pada nabi. Menghabiskan waktu dalam mihrab. Dewasanya, nun,  terpilih oleh Allah. Menjadi ibu nabi. Membesarkan dalam pasrah. Umi bukan seperti ibu maryam. Masih resah membayangkan nun tumbuh lalu menikah. Masih alpa memperdengarkan alquran setiap saat. Tapi harap umi, nun, kita bersama didunia dalam taat, lalu dalam surga di akhirat. Di hari-hari singkat penantian umi menunggu nun. Terbayang tahun-tahun yang akan nun lewati. Tahun-tahun nun menempel pada umi. Apakah umi mampu mandampingi dengan sabar? Tahun-tahun nun mengenal isi dunia ini. Apakah umi mampu menunjukkan dengan benar? Tahun-tahun nun belajar arti hidup ini. Apakah umi masih mampu ikut belajar? Tahun-tahun nun akan jauh dari umi...  Lalu, mungkin tahun-tahun kita menua bersama. Apakah umi sempat menjadi uti? I love you, from the deepest of my heart ...