Dari Ibu-Ibu Untuk Anak Manis 🤗
Allah ga pernah salah. Termasuk ngasih rizki, ujian, ganjaran, bahkan azab.
Ada suatu masa dalam pencarian jati diri itu, merasa semua salah, mereka begini begitu, tugas2, target2, salah. Lalu aku harus bagaimana? Orang2 julid tiba2 bertebaran.
Aku, susah move on. Bahkan pada sumpit. Percaya aku nangis gara2 sumpitku diambil adam. Apalagi pada kawan2 baik, sahabat2 dekat. Yang siang malam kutemui karena "bukan selamanya kita sama2." Maka sebelum ketiadaan itu hadir, hari2 ini harus kuhabiskan. Cerita banyak2, duduk banyak2, tertawa banyak2, nangis banyak2.
Seribu kali hujan tengah malam, "kak, aku tengah malem hujan2an waktu itu... " terus besoknya ujian kan? Terus kamu pilek, terus ada ustadzah. Terus.... Iya iya, ga cerita lagi.
Itu sumpek.
Itulah kenapa aku memilih tidak merasa. Bukannya menerima dengan lapang hati. Tapi hati yang mati. Menjadi menyebalkan. Menyakitkan. Dijauhi orang2. Karena menangis lama sepanjang hari setiap hari tidak menenangkan hati.
Tapi itu menambah masalah. Percaya.
Jadi, kalau kau menangis seliter dua liter setiap hari. Sendiri. tanpa kopi. Apalagi bintang, apalagi teman. Bahkan kakak kelas yang malah menertawakan juga tidak ada. Artinya kamu masih punya hati. Yang sedang belajar, bertumbuh, menguat, menangguh, menjadi tegar. Jangan dirusak. Jangan.
Mungkin Allah rindu, "tapi aku tidak menjauh" katamu. Mungkin Allah sayang, "dengan apa?" mungkin Allah ingin lebih dekat, mungkin Allah uji. Kita tidak pernah tau. Lalu bagaimana? Menangis saja. Terus saja menangis, tidak usah berusaha berhenti. tapi dalam sajadahmu, dalam sujud2 panjangmu. Atau dalam baringanmu sebelum tidur. Mengadu, jika bahkan ibumu tidak menerima pengaduan.
Atau padaku.
Uraikan satu2, bercerita pada diri sendiri. "aku gasuka dia karena 123. Aku susah dalam ini. Aku gamau begini. Aku bingung ini. Aku jatuh cinta aku patah hati. Atau ini bukan jatuh cinta bukan patah hati, tapi aku lihat dia.... Merasa aku... Merasa dia... "
Sedetil itu. Persis ibu2 mengomel. Itu mengurangi stress. Terkadang kita hanya butuh cerita. Agar lega, sehingga bisa keluar solusi dengan sendirinya.
Boleh telp aku. Boleh. Marahi aku boleh. Menangis boleh. Ngamuk? Boleh.
Ada suatu masa dalam pencarian jati diri itu, merasa semua salah, mereka begini begitu, tugas2, target2, salah. Lalu aku harus bagaimana? Orang2 julid tiba2 bertebaran.
Aku, susah move on. Bahkan pada sumpit. Percaya aku nangis gara2 sumpitku diambil adam. Apalagi pada kawan2 baik, sahabat2 dekat. Yang siang malam kutemui karena "bukan selamanya kita sama2." Maka sebelum ketiadaan itu hadir, hari2 ini harus kuhabiskan. Cerita banyak2, duduk banyak2, tertawa banyak2, nangis banyak2.
Seribu kali hujan tengah malam, "kak, aku tengah malem hujan2an waktu itu... " terus besoknya ujian kan? Terus kamu pilek, terus ada ustadzah. Terus.... Iya iya, ga cerita lagi.
Itu sumpek.
Itulah kenapa aku memilih tidak merasa. Bukannya menerima dengan lapang hati. Tapi hati yang mati. Menjadi menyebalkan. Menyakitkan. Dijauhi orang2. Karena menangis lama sepanjang hari setiap hari tidak menenangkan hati.
Tapi itu menambah masalah. Percaya.
Jadi, kalau kau menangis seliter dua liter setiap hari. Sendiri. tanpa kopi. Apalagi bintang, apalagi teman. Bahkan kakak kelas yang malah menertawakan juga tidak ada. Artinya kamu masih punya hati. Yang sedang belajar, bertumbuh, menguat, menangguh, menjadi tegar. Jangan dirusak. Jangan.
Mungkin Allah rindu, "tapi aku tidak menjauh" katamu. Mungkin Allah sayang, "dengan apa?" mungkin Allah ingin lebih dekat, mungkin Allah uji. Kita tidak pernah tau. Lalu bagaimana? Menangis saja. Terus saja menangis, tidak usah berusaha berhenti. tapi dalam sajadahmu, dalam sujud2 panjangmu. Atau dalam baringanmu sebelum tidur. Mengadu, jika bahkan ibumu tidak menerima pengaduan.
Atau padaku.
Uraikan satu2, bercerita pada diri sendiri. "aku gasuka dia karena 123. Aku susah dalam ini. Aku gamau begini. Aku bingung ini. Aku jatuh cinta aku patah hati. Atau ini bukan jatuh cinta bukan patah hati, tapi aku lihat dia.... Merasa aku... Merasa dia... "
Sedetil itu. Persis ibu2 mengomel. Itu mengurangi stress. Terkadang kita hanya butuh cerita. Agar lega, sehingga bisa keluar solusi dengan sendirinya.
Boleh telp aku. Boleh. Marahi aku boleh. Menangis boleh. Ngamuk? Boleh.
Salam sayang
Komentar
Posting Komentar