ROMANTISME





Romantisme mbok-mbok baru 7 tahun, 

Melihat punggungnya dari motor belakang

Kakinya kadang menghalau ayam yang kupingnya tidak dengar klakson

Tapi Rasanya seperti dilindungi dari semburan gunung meletus

Juga asyik tin tin mendahului pick up yang lambat

Tapi rasanya seperti dibukakan jalan oleh pengawal pejabat

Sebelum berangkat, sibuk tanya kaya orang tua, "dek, pakai motor yang mana?" 

Padahal aku sudah ahli bawa karung dan 2 anak di tebing jurang

"Dek, lebih enak bawa anak apa barang? Eh sini dah, biar di dudukin Ahmad"

Akhirnya aku hanya bawa badan

"Waktunya beli mobil ini, kapan ya kita ada tabungan"

Ingin rasanya ku sumbang dengan uang logam kembalian


Tidak seperti di film-film, harusnya menikah itu baru intro, Resolution nya di akhir hayat, Klimaksnya tergantung aktris 

Meletakkan pernikahan di akhir and happily ever after adalah kesalahan terbesar, benar adanya dunia nyata lebih seru daripada dunia fiksi, kata penulis. 


Menyimpulkan punggung dari motor belakang adalah romantisme merupakan hasil kerja darah dan air mata selama 7 tahun ini

Mungkin di tahun perak dan emas nanti romantisme berkembang dalam bentuk lain, atau lebih sederhana daripada hari-hari penuh perjuangan ini.


Tapi sungguh, sayangnya tidak bisa ku foto dengan mata dan mata hatiku. Di jalan menanjak itu, terlihat gunung menjulang sebesar langit, langit terik membakar kami, punggungnya tegak memimpin jalan, seolah-olah mengatakan "kamu aman dibelakang"


Kasihnya sampai dalam jiwa kami, di motor yang beriringan, terik dan hujan, di jalanan lereng Bromo hingga Patalan. 

Esok, kumpulkan kami dalam keabadian.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu