Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Hidup

Kalau aku tumbuh,  aku siap diinjak makhluk,  dimakan semut. Atau selamat,  meninggi,  menembus tanah. Kalau aku selamat,  aku siap diendus bocah, kelaparan, lupa disiram. Atau membesar, kokoh,  kuat. Kalau aku membesar,  aku siap dijadikan sandaran, dikencingi setan. Atau berbunga,  cantik, mempesona. Kalau aku berbunga, aku siap sakit dipetik, lelah dihembus. Atau berbuah, menggelantung, lebat. Kalau aku berbuah, aku siap dilempar tukang degan, dimakan kelelawar. Atau dipetik manusia baik, sebagai penawar ibu hamil yang kurindu janinnya,  dibelakang rumah ini. Demikian, aku biji mangga.

Nadhoman, misteri kecerdasan Polymath masa islam

Ini adalah hasil sharing  sama kakak beberapa saat lalu.  Ceritanya lagi cari2 soal korea karena mau moderator i acara kajian remaja. Merembet2 ngomongin film membentuk karakter dsb. Akhirnya ngomongin ilmu. Gimana sih cara kita kalo pengen ahli dengan suatu bidang ilmu? Fyi, jaman islam dulu, para ilmuwan itu ga hanya ahli di satu bidang ilmu. Tapi langsung dua, tiga,  bahkan lebih. Polymath istilahnya. Ada yang fisikawan, ahli astronomi,  sekaligus geografi. Nah, yang kaya begitu itu jamak dijumpai di zaman itu. Kaya anak sekarang ahli musik sekaligus drama sekaligus sinetron. Zaman islam dulu, orang islam belajarnya dari kecil. Mulai bayi bahkan dalam kandungan. Daan, belajar yang dimaksud bukan belajar melompat, menggunting,  menempel dsb. Dari dalam kandungan mereka hafalan Quran, mau belajar juga dihafal dulu kitabnya.  Pernah denger Imam Syafi'i mau berguru pada Imam Malik,  beliau menghafal kitabnya imam malik dulu. Intinya,  anak kec...

Kepancasilaan Sang Pancasilais

Tahun 2018, ibarat manusia,  Indonesia sudah tua. Karena Indonesia adalah negara,  maka,  proses pertumbuhannya pun lebih lama sebab melibatkan beratus juta manusia.  Indonesia, dalam perjalanan hidupnya merangkak membentuk peradaban gemilang.  Dengan ayat suci pancasila,  Indonesia tumbuh mengarungi kejamnya dunia.  Evaluasi penerapan pancasila senantiasa dilakukan.  Maka seperti agama,  terkadang tak ada bedanya antara menjadikan pancasila sebagai dasar kepentingan dan menggunakan pancasila sesuai dengan kepentingan.  Setiap masa,  pancasila memiliki tafsiran tersendiri.  Pun juga antipancasila memiliki tafsiran berbeda yang menjadi petaka bagi yang dicapnya.  Sayangnya,  rakyat Indonesia tidak bisa mengidentifikasi orang-orang yang boleh menafsirkan pancasila.  Maka bolehlah kiranya,  sebagai rakyat Indonesia yang ingin berkontribusi dalam pembangunan negara,  saya mengartikan dengan cara paling mu...

Cahaya Amal Kami

Gambar
Kata joko pinurbo,  aku adalah mata dan kau airmataku. Bolehlah kuganti,  aku adalah mata dan kau pupilku.  Oh,  murahan.  Satu tahun dalam "bertemu bukan obat rindu" Akankah lebih baik tidak bertemu saja? Atau lupa saja? Agar tak ada rindu dalam temu. Tapi apa guna temu tanpa rindu? Lalu kau menjadi merah,  biru,  ungu,  mungkin merah muda. Oh,  sedikit hitam.  Sangat abu-abu.  Atau aku yang begitu? Kita saling bingung satu sama lain. Merasa "salahku mungkin? " "dia tak paham." Dua puluh yang sama ini,  biarlah ia mengenang anugerah besar.  Anak terbaik ayahku,  anak terbaik ayahmu.  Yang kumohonkan adanya dipandangan.  Disekitaran jejak bayangan. Cahaya amal kami,  Maksud pak suyono,  pastilah kau bersinar malam 17 tahun lalu. Dalam seluruh amal baiknya dalam sunyi.  Dalam serial yang kutonton sejak tadi pagi aku belajar, bolehlah aku berdoa kita tumbuh bersama....

Seperti mendoan

Gambar
Banyak yang berubah dalam pergantian tahun ini. Tak akan kuceritakan awal mulanya. Terlalu panjang.  Terlalu memakai hati. Nanti tak jadi  menulis.  Intinya aku melompat fase.  Faseku yg dua bulan lalu masih ditemani mengambil makan.  Baju yg "tercucikan". Membantu mengupas bawang.  Merengek minta ditemani salim dengan tamu.  Segalanya terlalu cepat.  Saking cepatnya tak berasa. Terharunya umi,  sedih bahagianya abi,  cemburunya faza,  tidak enaknya zaky, sebalnya kawan2 baik.  Tak ada.  Aku bingung dengan banyaknya rasa.  Kuhantam keluar.  Tak kupersilakan masuk.  Biarkan saja, pikirku. Daripada menghadapi banyak pertanyaan dengan tegang. Dipagi ini,  aku tertidur setelah bangun.  Sedikit meregangkan kaki yg kesemutan dalam sujud panjang yg menghilangkan rezeki pagi. Belanja daun singkong.  Kuturuti ibu2 hari kemarin.  "daun singkong disini 2000." kenapa memangnya bu?  "harusn...

Kakak

Kakak....  Kakak.... Kakak... K a k a k. Sudah?   Iya...