Kepancasilaan Sang Pancasilais
Tahun 2018, ibarat manusia, Indonesia sudah tua. Karena Indonesia adalah negara, maka, proses pertumbuhannya pun lebih lama sebab melibatkan beratus juta manusia. Indonesia, dalam perjalanan hidupnya merangkak membentuk peradaban gemilang. Dengan ayat suci pancasila, Indonesia tumbuh mengarungi kejamnya dunia.
Evaluasi penerapan pancasila senantiasa dilakukan. Maka seperti agama, terkadang tak ada bedanya antara menjadikan pancasila sebagai dasar kepentingan dan menggunakan pancasila sesuai dengan kepentingan. Setiap masa, pancasila memiliki tafsiran tersendiri. Pun juga antipancasila memiliki tafsiran berbeda yang menjadi petaka bagi yang dicapnya. Sayangnya, rakyat Indonesia tidak bisa mengidentifikasi orang-orang yang boleh menafsirkan pancasila.
Maka bolehlah kiranya, sebagai rakyat Indonesia yang ingin berkontribusi dalam pembangunan negara, saya mengartikan dengan cara paling mudah, pancasila sebagai dasar negara berarti negara dalam perjalanannya haruslah bersesuaian dengan pancasila dan haruslah menimbang segala sesuatu dengan pancasila.
Ketuhanan yang maha esa belum terealiLsasi. Entah sengaja atau tidak, konflik agama menjadi hal yang paling enak untuk digoreng. Pengarusan berita "diskriminasi" minoritas dan "kedzaliman" mayoritas memenuhi media sosial. Slogan bhineka tunggal ika seolah tak punya cakar lagi.
Kemanusiaan seolah tak memiliki keadilan dan adab. Pemuda mengalami krisis identitas, krisis kepribadian, krisis macam-macam. Gadget adalah sahabat karib, narkoba menjadi kawan, galau bagai makanan sehari-hari. Guru yang digugu dan ditiru ibarat tempat penitipan anak, dibayar dan jangan macam-macam. Dalam kasus ekstrem, orangtua pun tak memiliki penghargaan dari anak. Pendidikan hanyalah formalitas, bukan pembentukan karakter yang arif bijaksana. Sulit membayangkan nasib bangsa kedepan ditangan mereka. Hukum cenderung tumpul keatas tajam kebawah. Tumpul ke kawan tajam ke lawan.
Persatuan Indonesia hanya muncul di lapangan bola, kompetisi internasional, dan hari kemerdekaan. Diluar itu, saling sikut, saling tuduh, saling bedil tak kunjung menuai solusi. Tidak di perbatasan tidak diibukota rakyat kenyang dengan perselisihan. Politik belah bambu dan adu domba rasa-rasanya tak berhenti dizaman penjajahan saja.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan sulit ditemukan. Pelabelan terhadap pihak yang tidak disukai menjadi hobi. Minimnya konfirmasi baik rakyat dengan rakyat maupun pemerintah dengan rakyat. Pembungkaman terjadi tanpa mendalami isi, asal tak sejalan dengan kepentingan. Sehingga tidak terjadi ikatan kepercayaan antara penguasa dan rakyat.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi mimpi. Bpjs kesehatan yang diharapkan menjadi tumpuan malah berantakan. Kesenjangan sosial semakin tinggi. Sebagian kecil rakyat Indonesia menguasai sebagian besar kekayaan Indonesia. Besar juga yang diberikan pada asing dengan cuma-cuma tanpa melihat sebagian besar rakyat besusah-payah. Disisi lain, hutang dan penarikan pajak semakin menjadi.
Jika bangsa Indonesia mau jujur dan lapang hati memikirkan bertumpuk permasalahannya pastilah akan ditemukan jalan keluar. Dengan syarat murni untuk kepentingan bangsa Indonesia. Bukan dijadikan bungkus kepentingan hawa nafsu pribadi. Rakyat yang aktif membangun bersama dengan pemerintah yang terbuka.
Indonesia dengan posisi geografis dan kekayaan tak terkira harusnya bisa menjadi negara adidaya. Namun, alih-alih menjadi negara maju, menyelesaikan permasalahan sendiri pun belum mampu. Isu SARA bukanlah satu-satunya masalah. Jangan malah memperkeruh suasana, duduk berdiskusi harusnya menjadi kebiasaan bangsa ini. Bicara dengan fakta, bukan asumsi. Kemiskinan dan kriminalitas saling terkait. Padahal, menurut hitung-hitungan pakar perhutanan, hanya mengelola hutan saja, Indonesia bisa membiayai pendidikan seluruh rakyat hingga kuliah. Belum lagi berbagai jenis tambang di dalam hampir setiap tanah bumi pertiwi. Namun sulit menemukan bendera Indonesia di pertambangan seluruh negeri. Maka, ketika kebutuhan dasar manusia terpenuhii, pangan, sandang, papan, keamanan, pendidikan, dan kesehatan, dengan sendirinya bangsa akan melaju pesat membentuk peradaban baru.
Hal ini tidak bisa dilakukan tanpa revolusi pemaknaan pancasila, andil seluruh rakyat dan pemerintah. Pemaknaan dan pelaksanaan pancasila haruslah melalui hati yang murni dan arif, cerdas dan melek politik, berani dan independen. Sulit, namun, nasib bangsa yang rapuh di hari kemudian lebih mahal harganya.
Evaluasi penerapan pancasila senantiasa dilakukan. Maka seperti agama, terkadang tak ada bedanya antara menjadikan pancasila sebagai dasar kepentingan dan menggunakan pancasila sesuai dengan kepentingan. Setiap masa, pancasila memiliki tafsiran tersendiri. Pun juga antipancasila memiliki tafsiran berbeda yang menjadi petaka bagi yang dicapnya. Sayangnya, rakyat Indonesia tidak bisa mengidentifikasi orang-orang yang boleh menafsirkan pancasila.
Maka bolehlah kiranya, sebagai rakyat Indonesia yang ingin berkontribusi dalam pembangunan negara, saya mengartikan dengan cara paling mudah, pancasila sebagai dasar negara berarti negara dalam perjalanannya haruslah bersesuaian dengan pancasila dan haruslah menimbang segala sesuatu dengan pancasila.
Ketuhanan yang maha esa belum terealiLsasi. Entah sengaja atau tidak, konflik agama menjadi hal yang paling enak untuk digoreng. Pengarusan berita "diskriminasi" minoritas dan "kedzaliman" mayoritas memenuhi media sosial. Slogan bhineka tunggal ika seolah tak punya cakar lagi.
Kemanusiaan seolah tak memiliki keadilan dan adab. Pemuda mengalami krisis identitas, krisis kepribadian, krisis macam-macam. Gadget adalah sahabat karib, narkoba menjadi kawan, galau bagai makanan sehari-hari. Guru yang digugu dan ditiru ibarat tempat penitipan anak, dibayar dan jangan macam-macam. Dalam kasus ekstrem, orangtua pun tak memiliki penghargaan dari anak. Pendidikan hanyalah formalitas, bukan pembentukan karakter yang arif bijaksana. Sulit membayangkan nasib bangsa kedepan ditangan mereka. Hukum cenderung tumpul keatas tajam kebawah. Tumpul ke kawan tajam ke lawan.
Persatuan Indonesia hanya muncul di lapangan bola, kompetisi internasional, dan hari kemerdekaan. Diluar itu, saling sikut, saling tuduh, saling bedil tak kunjung menuai solusi. Tidak di perbatasan tidak diibukota rakyat kenyang dengan perselisihan. Politik belah bambu dan adu domba rasa-rasanya tak berhenti dizaman penjajahan saja.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan sulit ditemukan. Pelabelan terhadap pihak yang tidak disukai menjadi hobi. Minimnya konfirmasi baik rakyat dengan rakyat maupun pemerintah dengan rakyat. Pembungkaman terjadi tanpa mendalami isi, asal tak sejalan dengan kepentingan. Sehingga tidak terjadi ikatan kepercayaan antara penguasa dan rakyat.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi mimpi. Bpjs kesehatan yang diharapkan menjadi tumpuan malah berantakan. Kesenjangan sosial semakin tinggi. Sebagian kecil rakyat Indonesia menguasai sebagian besar kekayaan Indonesia. Besar juga yang diberikan pada asing dengan cuma-cuma tanpa melihat sebagian besar rakyat besusah-payah. Disisi lain, hutang dan penarikan pajak semakin menjadi.
Jika bangsa Indonesia mau jujur dan lapang hati memikirkan bertumpuk permasalahannya pastilah akan ditemukan jalan keluar. Dengan syarat murni untuk kepentingan bangsa Indonesia. Bukan dijadikan bungkus kepentingan hawa nafsu pribadi. Rakyat yang aktif membangun bersama dengan pemerintah yang terbuka.
Indonesia dengan posisi geografis dan kekayaan tak terkira harusnya bisa menjadi negara adidaya. Namun, alih-alih menjadi negara maju, menyelesaikan permasalahan sendiri pun belum mampu. Isu SARA bukanlah satu-satunya masalah. Jangan malah memperkeruh suasana, duduk berdiskusi harusnya menjadi kebiasaan bangsa ini. Bicara dengan fakta, bukan asumsi. Kemiskinan dan kriminalitas saling terkait. Padahal, menurut hitung-hitungan pakar perhutanan, hanya mengelola hutan saja, Indonesia bisa membiayai pendidikan seluruh rakyat hingga kuliah. Belum lagi berbagai jenis tambang di dalam hampir setiap tanah bumi pertiwi. Namun sulit menemukan bendera Indonesia di pertambangan seluruh negeri. Maka, ketika kebutuhan dasar manusia terpenuhii, pangan, sandang, papan, keamanan, pendidikan, dan kesehatan, dengan sendirinya bangsa akan melaju pesat membentuk peradaban baru.
Hal ini tidak bisa dilakukan tanpa revolusi pemaknaan pancasila, andil seluruh rakyat dan pemerintah. Pemaknaan dan pelaksanaan pancasila haruslah melalui hati yang murni dan arif, cerdas dan melek politik, berani dan independen. Sulit, namun, nasib bangsa yang rapuh di hari kemudian lebih mahal harganya.
Komentar
Posting Komentar