surat kecil untuk kawan kecil :)



Nak , Aku pernah bercerita soal pohon apel yang disayang dan tidak,  ingat? Ada nenek penyayang dan nenek pelupa. Mereka berdua hidup di tempat yang tinggi dan indah. Mereka mempunyai pohon apel di depan rumah mereka. Nenek penyayang memperlalukan pohon apel seperti anak nya sendiri. Dia siram setiap hari, dia cabut rumput liar disekitar nya,  dia beri pupuk yang banyak agar lekas tumbuh besar.

Sementara itu,  apa yang dilakukan si nenek pelupa?  Ia selalu asyik membaca buku di samping jendela. Ia menyiram pohon apel sambil membaca buku. Ia ceritakan masa mudanya pada pohon apel. Ia biarkan rumput tumbuh disekitar pohon apel, ''agar kau punya kawan'' katanya.  Pohon apel sebal dengan nenek pelupa. 

hari berganti  dan tibalah musim gugur. Nenek penyayang dengan tekun menyiram pohon apelnya. Pohon apel suka sekali dengan nenek penyayang. Daun-daunnya hanya gugur sedikit dan ia merasa cukup makanan. Sementara pohon apel milik nenek pelupa?  Dia meranggas. Habis daunnya. Lelah sekali akar pohon apel mencari sisa-sisa air di dalam tanah.  Ia kelaparan sepanjang musim. Menangislah sepanjang hari. Menangis atas daun dan air yang hilang.  Memanggil- manggil nenek tua pelupa' yang masih asyik membaca buku di beranda rumahnya. 

Musim berganti. Musim dingin datang.  Nenek penyayang seperti biasa melindungi pohon apelnya. Memastikan pohon apelnya tidak kekurangan makanan.  Semakin tersiksa lah pohon apel milik nenek pelupa. Dia kedinginan sepanjang musim.  Kelaparan selama dua musim. Airmata pun sudah habis untuk menangis. Ia rindu kisah-kisah nenek pelupa dan siraman nya. Ia rindu rumput-rumput yang dibiarkan nenek pelupa untuk menemani nya .

Nak,  kau tahu apa yang terjadi di musim berikutnya? Pohon apel milik nenek penyayang hidup dengan baik. Seperti biasa.  Tapi,  pohon apel milik nenek pelupa tiba-tiba penuh dengan bunga. Penuh sekali. Pada hari itu,  nenek pelupa melongok keluar jendela, tersenyum.  Dia berjalan keluar rumah tertatih-tatih menahan tangis haru. Pohon apelnya sebentar lagi berbuah. Pohon apelnya berhasil melewati masa sulitnya.  

Nak,  kuintipkan padamu rahasia nenek pelupa. Buku yang dibacanya adalah hidupnya. Dia membaca banyak sekali buku agar hidupnya dipenuhi amanat-amanat baik.  Ia tidak datang saat pohon apel menangis kehilangan daun, karena, bunga pohon apel tumbuh dari sedihnya. tapi lihatlah hari ini, pohon apel tersenyum melihat nenek pelupa. Rindu selama dua musim terbayar sudah. 

Nak,  perginya kawan, perginya orangtua seperti pergi nya daun dan nenek pelupa. Kau menangis malam ini?  Nenek pelupa menahan tangis saat memeriksa mu esok hari. Kau merengek bilang tak ada kawan, tidak menyenangkan, percayalah kau kawan terbaik nenek pelupa. Tidak menyenangkan juga hanya melihat kau dari jendela tanpa berbuat apa-apa. mendengar teriakan mu tanpa bisa datang menghibur.

Nenek pelupa akan ingat, nak, soal dongeng-dongeng yang pernah ia ceritakan.  Soal menghabiskan waktu mengerjakan remeh temeh yang ia tidak pandai. Soal Bintang-bintang yang ia perkenalkan. Soal rapuhnya dia menangis tiba tiba. Tertawa tibatiba
 Soal mandi hujan malam malam. Flu tanpa akhir. Permen-permen impian. Permen-permen yang dicintai.  Jerawat. Tidur sepanjang hari. Memilih novel daripada ujian.  Pemalu mu. Labilmu. Shalihah mu. Salting mu. Air mata yang kau hemat. Nenek pelupa akan ingat.

Esok hari, nak. Saat kau sudah berbunga. Lalu kemudian berbuah lebat,  ia akan datang menengokmu sesekali. Tersenyum haru. Doakan saja umurnya panjang,  berkah,  diberi kesempatan.

Nenek pelupa rindu pada pohon apelnya. Menangis di dalam hati. Berdoa agar pohon apel tumbuh dengan baik.

Salam rindu untukmu, nak... barakallah... :*

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME