Surat Cinta Tentang Pelangi



Hai pelangi. Salam kenal. Aku gadis kecil yang tidak tumbuh besar. Aku mengenalmu dari luasnya Langit biru sebagai senyum Langit Biru. Aku ingin menulisnya kemarin, tapi cuaca sedang buruk. Aku takut tidak bisa mengirimkannya dengan baik.



Pelangi, kemarin aku datang pada tempat yang kau mungkin muncul. Nyatanya, kau tak terlihat. Ataukah aku yang tak melihatmu? Aku ingin bertemu, pelangi. Sekali saja. Kata seorang kawan, jangan bertemu pelagi, nanti patah hati. Hm hm, dia tak mengerti betapa hatiku sudah kulenturkan sebelum berangkat menemuimu. Kemungkinan terburuk, ia hanya akan bengkok. Namun, akan kembali dengan sangat cepat. Kau akan sulit percaya.


Seperti apa rupamu? Kata Biru, kau manis, anggun dan elegan di saat yang berbeda. Tergantung dari sudut mana ku melihat? Biar kusebutkan. Eksklusif, sederhana, indah, humble, dan elegan. Dan Langit Biru tertawa, menertawakan dirinya. Apa aku akan tertawa juga? Aku akan tersenyum, pelangi. Senyum yang lebaar sekali. Senyum yang tuluus sekali. Betapa pantasnya pelangi menjadi senyum milik Langit Biru. Akan sangat menyenangkan bila kulihat dari bawah sini.


Maafkan aku yang masih ingin tahu. Aku tidak tumbuh, pelangi. Dan menjadi anak-anak membuatku tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahuku.


Kemarin hanya ada Biru yang agak suram. Atau auraku saja yang membuatnya jadi terlihat suram. Aku lega bisa bertemu di waktu yang bisa jadi tak bersahabat lagi. Hhh... langit biru masih sebiru kemarin dulu. Secerah kemarin dulu.  Ia malah lebih kokoh. Lebih tangguh. Tak terjangkau. Ingin kusapa lewat mata. Bahwa dunia sudah berbeda. Nyatanya, sekelebatan bayangannya saja membuatku ingin memina maaf. Betapa cerobohnya aku hari itu. Ku titipkan saja maafku pada mata bocah-bocah kecil yang berlarian disana. Bocah-bocah yang menjadi binar matanya.


Pelangi, salam kenal. Aku gadis kecil yang tidak tumbuh besar. Kutitipkan salam sayang pada angin. Semoga ia bersedia berhembus naik ke tempatmu, Langit Biru.



Saudarimu,


Gadis Kecil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME