Hujan, Matahari, dan Pelangi



Habis bikinin anak pidato buat pelajaran muhadharah (pelajaran yang nyuruh-nyuruh orang buat pidato). Kali ini pake bahasa indonesia. Agak geje sih, tapi dari pada pidato monoton yang bikin ngantuk mendingan pidato ini.
Salam...
Syukur kita panjatkan pada Allah SWT yang memberi kita segalanya. Termasuk hujan berhari-hari yang membuat kita merasakan indahnya out bond setiap hari (sekolah tercinta ini lagi banjir).
Shalawat dan salam pada sosok yang tak pernah kita jumpa, tapi langkahnya tak pernah luput kita ikuti.cahaya yang ia bawa tak se-cemen lampu teplok yang di tiup langsung mati. Ia lebih terang dari bintang yang paling terang, Sirius.
Tak lupa ucapan terima kasih pada pembawa acara yang telah memaksa saya untuk berbicara di depa anda semua. Dengan  sedikit ilmu yang saya punya dan keterbatasan indra saya, saya akan berkicau tentang “ Hujan, Matahari dan Pelangi ”.
Kita semua tahu bahwa kita adalah wanita (di kelas cuma ada cewek. Kita juga tahu bahwa orang-orang sering sekali dengan senangnya menyematka  gelar tangisan pada diri kita. Cengeng, bahasa kurang ajarnya. Sedih, menangis. Senang, menangis. Bahagia menangis. Marah, menangis. Haish, kenapa tak ada tanda yang jelas untuk mendeskripsikan hati wanita? Bahkan saya, SAYA! (bukan aku, tapi yang bacain pidato ini)melihat film pun tak pernah berhenti menangis. Lihat Abdur, menangis. Lihat Justin Bieber, menangis. Telpon mama’ menangis ju! Lu pung mau tu apa?! (dia orang Kupang, NTT). Bagi wanita, tangisan tak selamanya bersedih.
Tapi bukan tangisan milik wanita-lah yang ingin saya bicarakan. Tapi tentang hujan, matahari, dan pelangi. Tahu-kah kawan.... kita selalu bisa belajar dari alam, karena kita bagian dari alam dan hidup ini seindah alam. Termasuk tentang hujan, matahari dan pelangi.
Tuhan adalah Sang Maha Baik Hati. Dia menurunkan hujan. Kemudian, setelah hujan kehabisan pasukan, Ia memanggil matahari untuk menyorotkan sinarnya. Lalu, diantara titik-titik air yang tersisa, muncullah warna-warni indah bernama pelani.
Sama seperti hidup ini. Setelah dipanggil dewan direksi, kita menangis bak hujan. Kemudian, muncullah matahari-matahari kinclong yang menyilaukan di atas kepala-kepala yang tak beruntung alias gundul dan pelangi-pelangi kekurangan tinta alias kerudung jasjus.ups! salah, bukan itu... J
Hh... maksudnya , menangis itu bukan hal buruk. Karena Allah selalu menyiapkan senyuman seindah mentari di balik tangisan. Dan karena-Nya-lah, hidup ini menjadi lebih indah dari pelangi.
Bersyukur dan bersabar. Keduanya tanpa batas. Seperti hujan dan matahari yag tak pernah berhenti bekerja hingga dunia, tempat ia tinggal, hancur. Sabar dan syukur kita hingga udara bosan untuk masuk ke dalam paru-paru kita. Dan rasakan saat kita tak pernah berhenti bersyukur dan bersabar, hidup kita akan indah dan nyaman.
Kawan...
Hujan selalu disertai matahari. Maka, jika kau menangis, sabar dan tersenyumlah agar hidupmu tak segelap mendung di malam hari.
Maaf jika aku pernah menitikkan hujan dalam hati kalian.
Wassalam...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME