Aku #2



Pernahkah kau melihat keindahan sejati,wahai aku? Ku rasa tak pernah.karna keinndahan adalah semu bagimu.
Apa? Kau sering menangis karena dunia? Tak apa, wahai aku. Dunia memang penjara. Tak ada penjara yang membuat tersenyum, wahai aku.
Apa? Kau benci pada dirimu sendiri? Itu sebab tangisan yang jatuh? Benci karena terlalu cengeng. Tak pernah bisa dewasa. Takut pada masa depan yang tak pasti. Hei, diriku pun begitu, wahai aku.
Merasa munafik? Begitu mudah menyelesaikan masalah orang lain. Begitu mudah berkata-kata bijak. Nyatanya masalah sendiri yang tak lebih rumit tak pernah terselesaikan. Janganlah begitu, jangan mengadu padaku. Karna aku pun juga seperti itu, wahai aku...
Dan sepanjang pertanyyaa yang selalu muncul, dalam wejangan-wejangan untuk diriku sendiri, hatiku tak pernah lega, wahai aku. Dengan bersungguh ku coba melupakan. Tapi saat tak sengaja mengingat kembali menjadibegitu mengerikan, wahai aku. Karena aku tak pernah berdamai. Berharap lupa, tapi tak mungkun terlupa. Dadaku sesak setiap kali mengingatnya.
Cerita yang buruk jangan pernah dilupakan, wahai aku. Berdamailah, obati. Sekejamnya dunia, ia tak pernah menang melawan kasih sayang tuhan, wahai aku. Berdamailah..
Yang aku takutkan, wahai aku. Aku enggan keluar. Keluar dari lingkaran yang mengungkungku. Aku tak berharap untuk menjadi. Bahkan berharap agar tidak menjadi. Tapi, mengapa melepaskan menjadi begitu menyesakkan, wahai aku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME