Anak Pinter



Ada sebuah cerita tentang seorang anak kecil yang sedang berjalan-jalan dengan ibunya. Umurnya 5 tahun. Karena sudah waktunya dhuhur, ibu-anak tersebut mampir ke sebuah masjid untuk shalat. Sesampainya di masjid, sang anak menunggu ibunya untuk berwudhu. Tak lama, datanglah 2 gadis remaja untuk berwudhu. Tampilan kedua gadis tersebut seperti anak-anak remaja pada umumnya. Kaus panjang dengan celana jins dan kerudung seadanya. Anak kecil tersebut merasa aneh dan berbisik pada ibunya.
“ mi, mbak –mbak itu kok kerudungnya kecil ya? Kenapa nggak kayak ummi? Pantesnya kerudung itu buat kakak, iya kan..?”
“iya, coba Tanya aja ke mbaknya.”
Niat si ummi Cuma buat menggoda. Pengen liat reaksi anaknya aja. Ternyata si anak Cuma diem. Kelihatan dari tampangnya dia tidak puas. Selesai berwudhu mereka masuk masjid. Mbak-mbak itu juga masuk masjid. Si anak tetap melihat ke arah mereka. Merasa diperhatikan, mereka melihat ke anak tersebut dan tersenyum. Mereka menyapa
“ adek, siapa namanya?” mereka tanya sambil memakai mukena
“ fathimah. Mbak, kok mbak shalatnya pakai mukena?” tanya anak itu dengan polosnya.
“adek, kan Allah liat kita waktu shalat?” jawab salah satu dari mereka.
“berarti Allah nggak liat kita setelah selesai shalat? Makanya mbak Cuma pake kerudung kecil kayak punyaku?”  si anak balik tanya.
Mereka Cuma diem. Dan sang ibu hanya tersenyum. Tapi, ngakak sejadi-jadinya dalam hati.
Begitulah kita, Seenak perut sendiri ngerasa nggak di awasi Allah. Padahal, Allah always alives and excists. Looks us in every breath we take…
                seenak perut sendiri ngerasa Allah Cuma ada di masjid, Cuma liat waktu shalat. Setelah selesai shalat langsung aja pake baju seenaknya, melakukan sesuatu seenaknya. Dikira Allah nggak liat luaran masjid? Padahal, Allah is everywhere. Nggak ada satu lubang pun yang Allah nggak tahu di dunia ini. Nggak pernah sekalipun Allah lalai dalam mengawasi hambanya.
Pada dasarnya kita nggak papa maksiat asal Allah nggak tau.. J
//scientist yang selamanya nulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME