Aku Iri
Aku Iri
Aku iri, sangat iri
Iri pada lembar-lembar rumus Al Khawarizmi
Iri pada tangan- tangan Ibnu Sina yang penuh misteri
Iri pada planet-planet menakjubkan Al Syairazi
Iri pada Ibnu Haitsam, Ibnu Syatir, At Tusi
Negeri mereka tak ubahnya negeri dongeng yang nyata
Didongengkan padaku sejak telinga ini mengenal suara
Diperlihatkan padaku sejak mata ini mengenal cahaya
Jadilah aku meng-iri
Bagaimana tidak?
Aku tak melihat orang macam mereka di negeriku
Bukan karena mata ini buta
Mereka telah sirna, lenyap, tanpa bekas
Bersama dengan lenyapnya anganku untuk menjadi
Karna negriku adalah negri kejam
yang nyata
Negeri korporasi berpelindung hipokrasi
Apa untungnya memenuhi mimpi-mimpi tak pasti
Tanpa uang, tanpa bunga, tanpa keuntungan
Membayangkannya membuatku menggigit jariku sendiri
Biarlah…
Biarlah ku pendam segala iri
Karna jiwa yang meng-iri bukan hanya aku
Biarlah ku pendam segala mimpi
Karna tanpa negeri ‘dongeng’ itu, mimpi tinggallah ‘mimpi’
Biarlah waktuku habis
Memperjuangkan berdirinya negeri dongeng yang terlanjur membekas dalam
hati
Negri dongeng yang nyata
Agar saat negri dongeng itu kembali
Akan terbang berjuta mimpi ke angkasa
Biarlah aku hanya menjadi saksi
Biarlah ku pendam iri
Biarlah ku pendam mimpi
Biarlah waktuku habis
Karna para jiwa yang men-iri akan mendapatkan
Karna hidupku untuk mengembalikan negri pewujud mimpi
#sumpahiri>(
//Scientist yang selamanya nulis
Komentar
Posting Komentar