Masalah

Masalah itu kesenjangan antara kondisi sekarang dengan kondisi idealnya sesuatu. Dengan tahu masalah dengan pasti dan tetap, maka akan gampang memberi obatnya. Gampang aja, kaya dokter. Ada anak sakit panas tinggi. Dia periksa, dia tanya ibunya. Ketemulah, “ anak ini sakit panas biasa bu” diberilah paracetamol. Eh, besok si anak meninggal. Ternyata si bayi juga punya radang tenggorokan akut. Parah. Nah, contoh begini ini yang masalahnya ngga tau sehingga salah memberi solusi.

Di kasus kita, dari segi tau masalah aja ngga. Dan hampir-hampir ngga ada yang tau. Ilmu solusinya pun ngga pinter-pinter juga. Jadi wajar kalau masalah dan solusi ngga match. Banyak yang sok tahu. Masalah jadi tambah runyam.


Sekarang ini,  masalah kita sudah banyak sekali. Mulai dari kita dan sekitar kita aja. Kita. Seumuram ini kerjaannya adalah belajar dan sedikit bermain J. Tapi kita sama-sama ngertilah ya, belajar kita itu ngga maksimal. Lambat dari segi manapun. Dari sains kita jelas ngesotnya. Di luar negeri sono, anak seumuran kita udah pada eksperimen keren. Sebagian dari kita ngurus kesetimbangan kimia aja masih pusing. Ilmu sosial, outputnya pada jadi penegak hukum koruptor, seniman tak beradab. Ada seorang teman, bapaknya jurusan hukum sekarang jadi manager logistik di suatu perusahaan. Emaknya jurusan ekonomi sekarang buka les lesan. Ngga nyambung. Mereka ngga dapet tempat di bidang keilmuannya, sehingga loncatlah kemana-mana. Dari segi tsaqafah islam ngga usah tanya, yang islam ngga bisa baca quran ada berapa?

Ekonomi amburadul. Oke, pendapatan per kapita naik, tapi orang miskin juga makin banyak. Artinya, kekayaaan tidak terdistribusi merata. Kaya makin kaya, miskin tunggu mati. Kesehatan buruk. BPJS bukan jaminan. Regulasi terlalu rumit, lama. Yang bener aja orang sakit di suruh ngantri berjam-jam Cuma buat dapet nomor. Obat-obatan terlalu banyak efek samping. Orang miskin dilarang sakit. Mereka juga ngga kuat buat bayar iuran BPJS walaupun ambil kelas terendah. Pemalakan rakyat.
Keamanan, eh, penyelenggara keamanan aja bisa bunuh istri anak. Dengan yang lain? Jelas ngga aman. Terlalu banya rampok, pembunuh, pencuri, begal, penculik, entah berapa banya lagi istilah kriminal.  Akhlaq rusak. Ngga bermoral. Ngga berperi kemanusiaan, hedonis, apatis.

Gimana rasanya? Capek , penuh, terlalu banyak. Ini masalah. Jelas masalah. Terus gimana? Apa diagnosanya? Solusinya? Ada banyak ‘dokter’ di sekitar kita mendiagnosa bahwa segala kekacauan terjadi disebabkan oleh generasinya yang tidak baik. Well, akhirnya di bikinlah sekolah-sekolah . lembaga pendidikan yang bisa menghasilkan anak –anak pintar dan baik, sehingga bisa mempengaruhi masyarakat. Berhasil? Nggak. Karena di rumah anak-anak itu dirusak lagi oleh pemerintah lewat tv, game, internet. Anak-anak yang bisa jadi baik pun ngga bisa berpengaruh besar di masyarakat. Ngga membuat pengaruh signifikan. Ada lagi yang mendiagnosa karena akhlaq. Di bikinlah kajian-kajian akhlaq. Berhasil? NO. Ini masalah terlalu kompleks tidak bisa hanya dengan akhlaq. Karena ekonomi! Dibikinlah kajian-kajian ekonomi islam. Ngga bisa juga? Betul. Karena ekonomi dijalankan oleh pemerintah. Ngga akan berpengaruh besar.

Terus apa? Oke. Ini masalah tersistem. Maksudnya begini, masalah kesehatan misalnya, ada anak sakit, miskin. Dia ngga bisa berobat karen mahal. Bapaknya ngga punya kerjaaan karena PHK. Mau usaha kalah sama perusahaan gede (nah, ekonomi). Dia juga ngga pinter bisnis karena lulusan SMA. Akhirnya dia ngerampok (nah, keamanan, moral, akhlaq). Dia mantan anak geng di masa muda. Sekolah dia ngga berpengaruh. Cuma jam 7 sampe siang aja. Abis itu main. Dia pinter tapi dirusak tv , game, porno, dll. (nah, pendidikan). Kenapa di rumah ngga diawasi? Karena bapak ibunya kerja. Ibunya kena virus emansipasi ngga mau ngurus anak. Bapaknya cuek, yang penting ngasih duit. Bapak ibu meninggal. Jadilah ia miskin (nah, balik lagi ke ekonomi)

Sinetron banget. Tapi itulah gambaran kehidupan di sekitar kita. Saling menjalin. Tidak berdiri sendiri, tersistem.  Berarti harus ganti sistem? Ya, ganti. Dengan apa? Sekarang kita pake sistem kapitalisme. Sistem haus duit. Sistem ini baru berdiri sekitar 200-an tahun dan sekarang sudah bikin banyak masalah. Harus kita ganti dengan yang sudah berhasil, yaitu sistem islam. Percaya, pemerintahan islam, mengatur selama 13 abad hingga mencapai 2/3 dunia. Ini bukan teokrasi macam kerajaan bizantium kristen. Islam punya aturan pemerintahan, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan yang lain. Islam punya aturan super lengkap untuk kehidupan manusia. Karena islam diturunkan oleh pencipta manusia, Allah SWT.

Buktinya, dalam 13 abad islam berkuasa, hanya tercatat sebanyak 200 kejahatan kriminal yang di hukum dengan had. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, saking makmurnya, sampai tidak ada yang berhak menerima zakat. Bahkan, domba dan serigala bermain-main ersama di padang rumput. Sekali wanita di lecehkan, kholifah Al-Mu’tashim, mengirim tentara yang ujungnya sudah sampai, dan pangkalnya masih keluar gerbang Baghdad. Dari segi keilmuan, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Batutah. Di tsaqofah islam, Imam Syafi’i, Hambali, Maliki, banyak lagi.


Islam adalah agama universal, rahmatan lil ‘alamin. Diturunkan oleh Pencipta alam. Maka wajar, islam bisa mengatur sebegitu banyaknya, sebegitu luasnya, sebegitu beragamnya umat manusia. Jadi, apa aksi kita? Jadilah dokter. Obati orang-orang. Belajar islam. Dakwahkan islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME