Kau Aku

Kau  datang dengan senyum ‘selamat’ . “maaf…” kau berbalik, melangkah. “tunggu” ‘tak akan ada gelombang dalam rumah siputku’ aku bodoh! Kau takkan kembali.
Tapi aku gila. Terdiam. Membeku. Dingin. Dalam terik yang menerobos jendela, aku memudar.
Tak pernah sama. Disini kosong. Karna batu yang kulempar sendiri. Aku tahu. Aku salah. Aku benar. Agar kau tak berharap. Agar ini berakhir. Tapi kau hilang dengan hancur, pecah, berdarah, dalam matamu, dalam senyummu. Hai…. Palsukah?
Maaf…
Satu musim berlalu. Ku tahu kau tertawa hambar disana. Berusaha tidak menoleh. Ku lihat punggungmu membentuk benteng tebal namun rapuh. Aku mendengarnya, ‘kau menghancurkan hati’ aku terkesiap. Aku kira aku menciptakan ilusi tentang lukamu. Saat kau pergi dengan senyum, tak kuartikan itu sebagai penerimaan. Bahwa kau menerima. Bahwa aku tak pernah mendapat tempat dalam hatimu. Tapi justru lukamu menerobos neuronku. Memasuki alam bawah sadar dan membuatku merasakan pedihmu. Dan ku kira itu ilusiku sendiri?? Bodoh sekali, bukankah itu berarti lukamu sangat dalam…?
Maaf… maaf…
Kau bangkit dari tempatmu. Menjauh. Aku takkan menjadi bodoh lagi. Ku berlari. Menerobos hujan. Mengejarmu yang hanya berjalan. Tapi luka kita bereaksi dengan buruknya. Lukamu membuat kekuatan untuk melangkah dengan angkuh, sinis, tak terjagkau. Lukaku… keparat! Aku bahkan hanya berpindah beberapa inchi. Dan kau tak berhenti. Tak menunggu
Aku sampai. Didepan matamu. Ya Tuhan… apa yang telah aku lakukan… “kembalilah… Dont tell me I'm a heartbreaker. cause my heart is breaking”
‘kaca ini sudah menjadi pasir. Bahkan tak akan sakit jika kau menginjaknya… pergilah… aku sudah tidak bisa diperbaiki lagi…’
kau tersenyum.
Aku masih ingin percaya… dengan apa?

@heart breaker

Komentar

  1. Aku masih ingin percaya ... dengan apa ?


    sedang kau berdiri disana tanpa memberiku sesuatu, bahkan walau hanya alasan, memintaku untuk tinggal ...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME