Surat Cinta dari Manusia yang Terciptakan




 aku adalah manusia yang entah mengapa terciptakan. Dalam ketidak mengertianku tentang diriku sendiri, aku selalu merasakan kekeringan hati. Selalu merasa mudah patah. Seperti ranting kering yang kutemukan di pinggir lembah. Merasa tak berarti, berserabutan seperti ilalang. Terinjak, pasrah.
            Namun kemudian, sesuatu datang padaku menawarkan kelembutan, keteraturan, kelenturan. Seperti daun cinta yang sering dibicarakan orang-orang. Cinta yang pasti, yang tidak kering. Cinta yang merangkul semua manusia yang terciptakan. Sebuah cinta yang menciptakan segala hal menenangkan di sekitar kita.
            Hanya saja, cinta ini takkan sempurna jika hanya mengendap dalam satu jiwa. Sesuatu harus membuatnya bersatu. Seperti dedaunan kecil yang terlihat indah jika bersama. Tidak mudah roboh dan terinjak.
            Kawan, jika ada seribu orang yang memperjuangkan cinta ini, maka akau akan menjadi salah satunya. Jika ada seratus orang yang menjaganya, maka aku akan menjadi salah satunya. Jika ada sepuluh orang yang merawatnya, maka aku akan tetap menjadi salah satunya. Sekalipun jika hanya ada satu orang yang mengerti tentang cinta yang luar biasa ini, maka pasti akulah orang itu. Yang akan merawatnya, menjaganya, memperjuangkannya. Karena kawan, tak ada yang lebih baik selain cinta ini. Jika kau bandingkan dengan bunga paling indah yang pernah kau lihat sekalipun.
            Cinta ini adalah cinta milik tuhan. Untaian kasihnya yng terukir dalam lembaran Qur’an. Nada lembut yang terjaga dalam setiap alunan hadist. Yang akan menjadi kokoh dan mencerahkan jika kita bersama.
            Cinta ini telah lama tiada kawan...
            Sejak sembilan puluh satu tahun yang lalu...
Namun, karena aku telah mengerti dan kau telah kuajak untuk mengerti, marilah kita bangun kembali.Cinta kedua yang Allah janjikan untuk kita...
Dengan Cinta             
                                                                                    Manusia Yang Terciptakan
Fathimatuz Zahroh Musthofa

Komentar

  1. ekhem.. ekhem.. sok puitis rek..
    tapi, bagus kog.. aku suka.. jadi terharu.. hiks.. ;(

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang harus terharu.. dari situ saya bisa melihat apakah anda punya hati atau tidak.. :P

      bukannya maksa. tapi aku sangat butuh pujian hahah... kidding

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME