Bukan Tentang Bromo

amatiran <>!@#
            Rabu, 29 Agustus 2015 sampai Jum’at 31 Agustus 2015 IBS Al Amri mengadakan out bond untuk kelas sebelas dan murid baru di Bromo. Aku mengikuti keduanya karena aku adalah siswi kelas sebelas dan murosah bagi adik-adik baru.
            Bagi kelas sebelas, ini adalah outbond yang tertunda. Tahun lalu tidak ada out bond bagi kami, karena sibuk memperbaiki diri J. Kelas sebelas berangkat hari Rabu pukul sembilan pagi. Melewati jalanan Gunung Bromo yang berkelok dan naik turun hingga sekitar pukul sepuluh. Sampai di penginapan, kami beristirahat dan merapikan barang sambil menunggu acara yang dimulai pukul satu siang.
            Out bond di buka dengan pembagian kelas menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok membuat nama dan yel-yel. Karena tema out bond adalah “Suatu Kepastian Adalah Sebuah Ketidakpastian”, maka nama-nama yang diambil pun menjadi serba samar dan tidak jelas. Kelompok satu bernama “Tak Pasti”, kelompok dua bernama “Kabut”, kelompok tiga bernama “Badai”.
perhatian perhatian...!
Kaabut
            Setelah beberapa kali meneriakkan yel-yel masing-masing ditambah dengan sedikit permainan konsentrasi meneriakkan yel-yel, ustadz Faqih, pembina out bond, memulai permainan yang entah apa namanya. Aku menyebutnya permainan Mencari Tempat. Setiap kelompok berbaris sesuai dengan instruksi yang diberikan. Misalnya, sesuai dengan urutan tinggi badan dari yang terkecil hingga yang terbesar, berat badan, nomor rumah, nomor sepatu, umur, umur ibu, umur nenek, ranking di kelas, dsb. Kelompok yang pertama kali selesai harus meneriakkan takbir dan akan mendapat poin jika benar dan urut.


waduh yang paling gendut di depan!
diay di belakang!
hurray! *heboh banget
            Ustadz Faqih punya permainan baru. Tidak menguras tenaga, tetapi menguras otak dan konsentrasi juga sedikit emosi, geregetan. Kami membuat lingkaran. Berhitung satu dua tiga. Kelipatan tiga harus berkata dor. Ini adalah permainan lama, tapi tak pernah gagal membuat yang memainkannya marah-marah, emosi. Apalagi urusan kelipatan tiga. Kelipatan lima saja belum tentu benar semua apalagi tiga.  Bukan masalah tiga lebih sedikit dari lima. Ini karena tiga adalah angka ganjil dan sulit memperkirakannya jika sudah mencapai kelipatan puluhan. Harus benar-benar konsentrasi. Belum lagi ustadz Faqih meningkatkan grade permainan, berkata “dar!” lalu “der!” kemudian “dor!” di setiap kelipatan yang entah keberapa. Lupa. Tidak lama kami bermain ini. Semua orang tiba-tiba menjadi sensitif sekali, lupa kalau hanya permainan. Akhirnya, waktu mengharuskan kami untuk kembali. Shalat ashar, mandi dan sedikit istirahat. Mengembalikan ingatan jika ini hanya permainan J.
lingkaran kecil lingkaran kecil liiingkaran besaar
            Selesai break, kami kembali lagi ke tempat out bond. Ustadz Faqih sudah menyiapkan tiga tongkat. Beliau menyebutnya Tongkat Gila. Tongkat itu kira-kira sepanjang satu meter. Satu tongkat untuk satu kelompok. Setiap kelompok harus mengangkat tongkat tersebut dengan dua jari telunjuk yang dijajarkan, harus lurus dan seimbang mulai dari mengangkatnya hingga menurunkan kembali. Jelas, harus ada yang memimpin dalam permainan ini. Kelompok yang terakhir kali berhasil mengangkat tongkat gila itu adalah Kelompok Badai.
Permainan belum selesai. Setelah semua kelompok berhasil mengangkat tongkat gila tersebut, ustadz Faqih meminta seluruh kelompok mengangkat tongkat gila secara bersamaan. Lurus, tidak boleh ada yang lebih rendah dari tongkat di sampingnya. Firda dari Kelompok Kabut yang dipilih untuk memimpin kami. Lama sekali hingga tongkat tersebut terangkat sempurna dan permainan ini selesai.
kok bengkong!
siing!
turun turun! naik! yang sono naik!
ayoo konsentrasi mbak..!
yeay!
            Permainan masih berlanjut. Kali ini aku menyebut permainan ini dengan “Kapal Pecah”. Ada lima lingkaran besar yang dilukiskan diatas pasir dengan ukuran yang berbeda. Diurutkan seperti spiral terputus dan diumpamakan menjadi kapal kami yang pecah. Seluruh anak harus memasuki kapal pecah tersebut. Kemudian ustadz Faqih berteriak “Badai!” dan kapal kami semakin rusak hingga kami harus berdempetan memasuki puing-puing yang tersisa, puing-puing tersebut adalah lingkaran yang lebih dalam dan lebih kecil tentunya. Sebagian dari kami terpaksa keluar karena semakin lama kapal kami semakin rusak disebabkan oleh badai yang datang berulang kali. Hingga hanya tersisa sekitar lima orang yang terselamatkan diatas lingkaran terakhir.
Terakhir adalah permainan yang aku menyebutnya “Romantika Kehidupan Hutan”. Ada dua orang yang harus berpegangan tangan membentuk ruang di tengahnya, menjadi pohon. Kemudian satu orang jongkok di bawahnya, menjadi tupai. Mulailah ustadz Faqih berteriak, “kebakaran!” para tupai pun kebingungan mencari pohon baru, saling berebut hingga menyisakan satu tupai tanpa pohon. Kemudian ustadz Faqih berteriak lagi, “gempa bumi!” para pohon berpindah tempat mencari tupai baru. “tsunami!” semuanya berantakan, tupai menjadi pohon, pohon menjadi tupai, ada yang kebingungan tidak tahu harus menggandeng siapa. Kacau. Begitu berulang-ulang hingga kami kehabisan tenaga. Lelah berlari, lelah tertawa.
            Permainan belum akan berakhir. Setelah kelelahan mencari ‘pohon’, ustadz Faqih kembali meminta kami untuk membuat lingkaran. Mengatakan banyak hal yang kami dapat dari permainan-permainan tadi. Permainan Mencari Tempat mengajarkan pada kami arti kebersamaan, kekompakan, dan perhatian. Bagaimana kita bisa menata diri kita sesuai dengan tempat kita. Menyesuaikan diri dengan sekitar, namun tetap menjadi diri kita sendiri. Permainan Romantika Kehidupan Hutan mengajarkan pada kami kepekaan, ketangkasan, dan kecepatan. Permainan ‘Dar Der Dor’ dan Permainan Tongkat Gila mengajarkan pentingnya konsentrasi, fokus, dan kesabaran. Juga tentang ketaatan pada pemimpin. Permainan Kapal Pecah mengajarkan pada kami arti kepedulian. Sekalipun diri sendiri sedang tidak baik, alangkah baiknya jika tetap memperhatikan orang lain. Menjaganya agar tidak tenggelam.
            Pukul lima kurang beberapa menit, ustadz Faqih menghentikan acara memetik pelajarannya. Kemudian meminta kami untuk tidak berbicara selama tiga jam. Dari pukul lima hingga pukul delapan malam. Jika ada yang sekali saja berbicara, maka satu kelompok tersebut tidak boleh makan malam sebelum selesai melayani makan malam teman-temannya. Kami memprotes. Memikirkan tidak boleh berbicara beberapa menit saja adalah bencana bagi sebagian dari kami. Ada yang mengantuk, ada yang mulutnya sakit, kebelet cerita, dan banyak lagi. Sebagian besar anak di kelas kami adalah anak-anak yang cerewet, banyak bicara. Maklum perempuan. Apalagi harus tiga jam, benar-benar tidak sanggup. Akhirnya, ustadz Faqih mendiskon waktu hingga satu jam, dari pukul lima sore hingga pukul tujuh malam. Kami sedikit lega.
            Sembari meng-istirahat-kan mulut sejenak, kami diminta untuk mencari lima tanaman dan membuatnya menjadi sebuah tulisan yang meng-inspirasi. Kelompokku mulai mencari tanaman dan aku diserahi tugas untuk membuatkan tulisannya. Kami menemukan ranting kering, ilalang, bunga yang indah, daun berbentuk hati, dan daun yang bentuknya seperti daun asem. Kemudian menjelang maghrib aku mulai merangkainya menjadi sebuah tulisan di pinggir ladang dekat penginapan.
bacain Surat Cinta dari Manusia yang Terciptakan *tulisan ku :)
            Setelah menulis, kami kembali ke home stay. Ternyata, dua kelompok yang lain sudah melanggar peraturan dilarang bicara. Kami lega, tidak ada saingan, tapi tetap saja waktu masih panjang. Waktu istirahat kami gunakan untuk mandi, shalat maghrib dan isya, dan makan malam.
            Tidak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Kami bersorak. Merdeka rasanya. Tidak ada yang selamat dalam permainan ini. Seluruh kelompok melanggar, seluruh kelompok terhukum. Kami harus membuat lima halaman tulisan tentang agenda ini ditambah dengan satu halaman tentang diri kami masing-masing. Tentang nama lahir dan nama yang akan diukir ketika meninggal.
            Ustadz Faqih memberi kami materi tentang mental building. Bagaimana orang-orang sukses merespon segala hal yang terjadi dalam hidup mereka. Menjadikan hal-hal yang biasanya tidak mengenakkan menjadi suatu hal yang positif bahkan bisa melejitkan diri mereka. Menceritakan banyak sekali kisah orang yang berhasil dalam hidup mereka. Membuat kami berjanji pada diri sendiri agar terus bersyukur, bersabar, dan berusaha.
            Setengah sepuluh. Waktu untuk beristirahat. Seluruh kegiatan hari ini di akhiri. Kami mengumpulkan tenaga untuk esok hari.
            Esok harinya, pukul setengah sembilan pagi, kami berangkat menuju puncak Bromo bersama adik-adik baru yang datang hari kemarin. Ramai sekali naik ke bak truk bersama-sama. Pengalaman pertama. Mencari pegangan di pinggir-pinggir bak, jika tidak begitu, alamat jatuh terduduk di tengah-tengah orang-orang yang berdiri karena jalanan yang naik turun dan berkelok. Anak-anak yang tidak berani berdiri malah duduk saling berpegangan ditengah. Takut terjatuh.
iyaa kita naik truk yang di belakang itu... :'(
            Hari ini adalah outbond untuk murid baru, jadi kami hanya ikut-ikutan naik ke puncak sambil membantu panitia. Menjadi tim kesehatan, menggantikan pembina, ikut menyemangati, berlari-lari. Aku dan beberapa anak lainnya bertekad mencapai puncak. Berjalan, berlari, terjatuh, beristirahat, bertemu beberapa turis, sok akrab menyapa, kepanasan, begitu berulang-ulang. Sampai di lembah pasir kecil, aku dan Fathiyah mengukirkan nama kami di tebing “Fathayani” berarti dua Fath, mungkin J. Hingga akhirnya kami mencapai puncak setelah lelah menghitung anak tangga yang kami naiki. Tak peduli diteriaki untuk kembali. Melihat kawah, melihat bawah, melihat Gunung Batok, memuji Allah, bersyukur diberi lensa mata yang bisa melihat banyak hal indah.
            Selesai menabung tenaga, kami kembali. Menuruni tangga, menuruni dinding gunung yang curam, terjungkal bersama Fathiyah, tidak bisa mengerem langkah, tertawa.
            Kami lelah, kaki kami sakit, tidak bisa digerakkan. Tapi, ada banyak hal yang kami dapat. Banyak pelajaran tentang alam dan lebih banyak lagi pemahaman hidup yang baik. Terima kasih Allah, untuk segala hal yang Engkau berikan, kemarin, hari ini dan esok hari.
ibuk! permennya buang! >:(
akhirnya...


adek adek! kok istirahat! naik lagi!!
keliatan gua nggaaak!!!

keluarga besar senior..! 'gue ngumpet, ogah foto'
dipaksa photo.. ;(
ehm.. aku senior baik kok

senior serem :p

bebek



obat herbal buat baksos

sumpah aku nggak nyadar!!

kaos kaki siapaaa!!! >:(


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME