?

Ada seseorang yang datang. Menyampaikan hal yang bahkan tak pernah terpikirkan. "... Bolehkah?" Sungguh, bukan karena kau baik atau tidak. Bukan karena cerita yang kau bawa, segala yang ada pada dirimu terlihat baik, tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dipertimbangkan. Apa yang harus di pikirkan.
        
    Memang, segalanya berbeda di sini.
Gadis seumurannya sangat wajar ketika harus berpikir tentang kehidupan masa depan. Memikirkan indahnya menapak langit bersama. Melewati hutan kerumitan yang sebelumnya tak pernah di jumpai bersama. Menyeberangi sungai deras arus kehidupan yang dulu tak pernah terpikirkan bersama. Memanjat tebing perbaikan yang semakin lama semakin meninggi bersama. Segalanya dilakukan bersama hingga berdiri diatas awan bersama. Terbang. Lepas.

            Tapi ia bukan mereka. Kehidupan masa depan baginya hanyalah soal ingin menjadi apa. Menjadi scientist, ibu yang baik dan cerdas, juga asisten Fathimah Azzahrah di surga. Sesederhana itu. Tidak ada urusannya sama sekali soal hal-hal yang rumit dan membingungkan seperti ini.

             Ia hanya ingin melewati kehidupan sesuai masanya. Lahir, belajar di rumah, belajar di sekolah, belajar banyak hal, tentang hidup, mimpi, apapun. Lalu mencari separuh jiwanya, menyempurnakan hidupnya. Dan sayang, bukan sekarang. Bahkan untuk memikirkannya saja terlalu rumit.

            Ia mengatakan tidak. Maaf, sekali lagi bukan karena yang ada pada dirimu. Siapapun itu, dengan cerita apapun, jika mereka bertanya padanya sekarang, maka ia akan menjawab tidak. Sekalipun akan menunggu, jawabannya tetaplah tidak. Ia tidak ingin mengulang cerita-cerita itu. Cerita yang membuatnya berubah. Barubah menjadi begitu rapuh dan mengerikan. Cerita yang selalu ia sesali ketika mengingatnya. Berkata banyak sekali sendainya. Walaupun ia tahu seandainya takkan bisa  berubah menjadi sebenarnya. Sudah cukup. Hanya satu kali terjatuh. Cukup baginya untuk belajar tentang hal ini. Karena walau rasa sakitnya sudah tidak terasa, tapi entah kenapa ia tidak bisa bangun lagi dengan baik. Ia tak ingin terjatuh lagi. Hanya itu..

            Mengertilah, sekalipun ia menjawab tidak, bukan berarti tidak untukmu. Tapi tidak untuk sekarang. Tidak, sekalipun kau akan menunggu. Tetapi jika kau berat. Datanglah lain kali. Saat ia sudah bisa bangun dengan baik, berdiri dengan baik. Saat ia sudah bisa berlari. Saat ia sudah menyelesaikan banyak hal yang harus ia pelajari. Karna ia ingin menjadi tulang rusuk terbaik untuk tulang punggung yang terbaik.

Biarkanlah ia dengan dunianya sekarang. Semoga Allah memberi untuk kau, aku, dan dia, yang terbaik…
           

         Seperti yang ia kisahkan padaku lewat bilik hati kecilnya sendiri…

Komentar

  1. Masih belum mengerti. Masih anak-anak. Masih di bawah umur. Masih belum belajar banyak hal. Masih banyak masih masih yang lain…
    tapi, selalu mencoba untuk bisa dewasa. Selalu mencoba untuk belajar banyak…

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME