Abi.. :)



16 tahun lalu. Detik pertama melihat cahaya. Detik pertama mendengar azan yang dikumandangkan di telingaku. Hingga 2 tahun kemudian, tuhan memberi teman untukku. Lalu aku berumur empat dan adikku dua. Mungkin. Abi mengantarku ke sekolah sekolah yang harus ku masuki. Mengatakan baik dan buruk. Membiarkan memilih. Abi yang selalu memberi pilihan, tapi mengarahkan untuk memilih salah satunya. Hmm… aku yang faham, sebenarnya tidak ada pilihan. Abi selalu berhasil.
                Abi yang selalu bercerita banyak hal, dengan caranya sendiri. Mungkin, sejak aku dan adikku masih belum berbentuk dalam perut ummi. Biar terbiasa berfikir, katanya.
                Abi yang tidak pernah mengajak kami ke tempat wisata. Waterboom ini, pantai itu, gunung ini, candi itu. Tapi, selalu mengajak melihat banyak hal indah di sekitar kami.
                Abi yang pagi-pagi mengajakku dan adikku pergi. “melihat matahari terbit” katanya. Kami berlari-lari menyusuru jalan-jalan kecil hingga sampai sawah entah dimana. Disana terlihat tiga gunung sekaligus. Seingatku empat, entahlah, lupa. Pegunungan Selatan, Gunung Arjuna, dan Gunung Putri Tidur. Entah, memang namanya atau abi yang membuatnya sendiri. Gunung itu memang seperti putri yang sedang tidur. Mulailah abi bercerita, hingga matahari terbit yang seharusnya dilihat menjadi terabaikan. Abi lebih dari sekedar matahari.
                Abi yang mengajakku dan adikku kabur setelah mengerjakan tugas dari ummi. Pergi ke Pegunungan Selatan. Memarkir motor di pinggir jalan. Mencari puncak tertinggi yang bisa kami jangkau. Berpura-pura bisa melihat rumah kami, padahal jauh sekali, tak terlihat. Mulailah abi bercerita. Tentang Pegunungan Selatan yang melindungi pulau kami dari ganasnya ombak Samudra Selatan. Tapi bagi kami, abi lebih dari sekedar gunung.
                Abi yang diberi tugas membeli ikan oleh ummi, malah mengajakku dan adikku ikut. “abi punya cerita” katanya. Itu artinya belajar bagi ummi. Ummi hanya mengangguk. Ummi menyuruh abi ke pasar, tapi abi tersenyum ke arah kami. Yeay! Kejutan apalagi?? Abi mengajak kami ke laut. Bermain, membuat benteng, melihat perahu-perahu kecil, melihat ikan-ikan, dan mulailah abi bercerita. Hingga deru ombak tak bisa kami dengar lagi. Abi lebih dari sekedar laut bagi kami.
                Abi yang kelelahan, tidak ada acara lari-lari pagi melihat tiga gunung. Tidak ada cerita kabur dari ummi. Tidak ada cerita kejutan berlama-lama membeli ikan. Tapi abi masih punya cerita. Mengajak kami ke beranda depan. Melihat bintang-bintang. Melihat bulan yang tidak penuh. Bercerita tentang bintang selatan. Abi menyebutnya bintang layang-layang. Sulit menyebutnya rasi bintang ikan pari seperti yang dibilang orang-orang. Kata abi, bintang adalah penujuk arah. Di laut, hutan, gunung, padang pasir, bintang selalu menolong. Tapi bagi kami, abi lebih dari sekedar bintang penunjuk arah.
                Abi adalah pemerhati alam terbaik di rumah kami. Setiap hal punya cerita sendiri. Abi adalah ilmuwan terkeren di rumah kami. Dengan bahasa sederhana, mampu membuatku mengerti tentang banyak hal rumit soal alam, cahaya, kecepatan, radiasi, bintang-bintang dan banyak hal lain. Bahkan saat umurku belum genap sepuluh.
                Siapapun, ini hanya soal bercerita, menjelaskan sesuatu. Tapi percayalah, abi lebih dari sekedar matahari, lebih dari sekedar Gunung Pelindung, lebuh dari sekedar Laut Kehidupan, lebih dari sekedar Bintang Penujuk Arah.
                Abi selalu melakukan segalanya dengan caranya sendiri. Cara yang tak bisa kujelaskan dengan hasil yang tak bisa kulukiskan. Karena aku tidak tahu apa yang lebih dari sekedarmatahari, gunung, laut, dan bintang.
                Abi… satu malaikat yang Allah kirimkan untukku, adikku, dan rumahku… terimakasih abi…

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME