Gara-gara Abi, Salah Semua
Mewek
π§π» Kenapa?
π§π»☹️
π§π» Marah?
☹️
Kesel?
π₯Ί
Karna?
☹️
Dimarah abi?
☹️
Boh, dinasehati?
π₯Ί
Kenapa kok nangis? Tersinggung?
π₯Ί
Oh, ga bener? Dituduh?
☹️
Engga juga? Bener juga? Abi bener?
π₯Ί
(π«£ Sabar inhale exhale siap2)
Kenapa tersinggung kalo bener?
π (Aduh, airmatanya)
Keras marahnya? Eh nasihatnya?
☹️
Lembut aja?
π₯Ί
OOO wajahnya? Seram?
π₯Ί
Oalah, jadi kesel? Sedih?
☹️
Eh tersinggung?
π₯Ί
Dinasehati apa?
π
Kok nangis lagi. Peluk dulu dah.
-
Dah, dinasehati apa kok tersinggung?
Aku gatau, masih mikir
(Astagaπ«‘) Oke. Shalat dulu biar tenang?
Iya.
Oke, yuk.
_____
π§π»: Kata Abi, kalau nggak mau ngaji sama Abi, Abi nggak mau urus hafalannya. π
π§π»: Ooo, ya Allah… sedih ya....
π§π»: He’eh. π
π§π»: Tapi kamu sungguh nggak mau ngaji sama Abi?
π§π»: Mau. ☹️
π§π»: Tapi kalau pilih-pilihan, kok nggak mau pilih Abi?
π§π»: … lama...
π§π»: Hmmm… Sama (ngaji) sampai Isya. Tapi nggak bisa nawar, kan? Ngobrol dulu, minum dulu, lama-lama ambil ina inu. Iya?
…
π§π»: Iya. Harusnya segitu, Kak. Kalau Umi mulai lama, kalian mengeluh, nggak fokus, ajak ngobrol, tengkar, cerita ini-itu. Iya, nggak? Selain lama, apa lagi?
π§π»: Semua salah.
π§π»: Tapi salah nggak menurutmu?
π§π»: Salah.
π§π»: Kalau sama Umi, nggak banyak salah?
π§π»: …
π§π»: Seperti tempe-tahu-telur ini. Kalau ini dikasih ke chef, kira-kira banyak nggak yang dikoreksi?
π§π»: Nggak tahu.
π§π»: Pasti banyak. Warnanya kurang cantik, rasanya kurang sedap, terlalu asin, terlalu banyak minyak, macam-macam. Karena dia chef, punya il…
π§π»: Ilmu.
π§π»: Kalau ini aku kasih ke kamu, bisa koreksi nggak?
π§π»: Enggak.
π§π»: Kenapa? Bikin telur isi bawang aja kamu belum bisa, ya kan? Hanya bisa telur ceplok aja.
π§π»: π (mulai santai)
π§π»: Kamu nggak punya il…
π§π»: Ilmu.
π§π»: Betul?
π§π»: Betul.
π§π»: Abi pun begitu. Abi itu belajar Al-Qur’an lama. Sama Allah diberi Ilmu Al Qur'an. Ngajinya lebih sempurna daripada Umi. Tentu jadi banyak yang dikoreksi, tapi bacaannya jadi sempurna. Kayak telur ini, kalau chef yang masak, pasti jauh lebih enak daripada Umi.
Umi itu kayak kamu. Ilmu Al-Qur’an-nya ya cuma “telur ceplok”, dikit banget. Jadi Umi kurang paham mana yang salah, mana yang kurang sempurna.
Kalau ngaji sama Umi terus, ya gitu terus—nggak akan sempurna. Teman-temanmu yang ngaji sama Abi, ustaz-ustaz yang ngaji sama Abi, itu bukan karena mereka nggak bisa ngaji. Umi-Abinya A, B, C itu bukannya nggak bisa ngaji; tapi ya kayak Umi ini, Kak. Dikit-dikit bingung, dikit-dikit lupa, lihat mushaf lagi. Itu pun belum tentu sempurna. Makanya minta diajari Abi.
Karena Allah kasih Abi ilmu Al-Qur’an.
Kayak Tante dikasih ilmu buat bikin kue.
Roti Maryam-nya Umi, enak nggak?
π§π»: Enak.
π§π»: Kira-kira kalau Tante tahu dan coba rasain, ada nggak yang dikoreksi?
π§π»: Ada?
π§π»: Pasti ada. Banyak. Kurang cantik, kurang empuk, kurang pas, macam-macam. Karena Tante ada ilmu masak. Kamu ada ilmu bikin kue?
π§π»: Hehe. π
π§π»: Orang muslim itu, Kak, nggak masalah kalau belum bisa semuanya. Tapi harus lebih baik dari hari kemarin, biar jadi muslim yang beruntung. Kalau lebih buruk, celaka. Kalau sama aja, rugi.
Maka kalau ada yang mengoreksi kesalahan kita, alhamdulillah, kita bisa perbaiki. Nggak perlu tersinggung. Walaupun manusia pasti ada rasa tersinggung—karena manusia. Seperti marah: kalau bukan karena kebaikan, nggak perlu marah; segera istighfar. Tersinggung juga begitu. Kalau kita memang salah, nggak perlu (tersinggung), segera istighfar. Gitu?
π§π»: Iya. π
π§π»: Sekarang sudah ngerti maksud Abi?
π§π»: Iya.
π§π»: Masih kesel?
π§π»: Iya, delapan. (Dari sepuluh, jadi delapan.)
π§π»: Alhamdulillah. Yuk, gosok gigi. π
___
Meanwhile,
π§π» tapi kak, umi bukannya sering gitu kalo marah ya? "Terserah dah, urus dirimu sendiri" kamu tersinggung nggak?
π§π» Enggak hehe π
π§π» Ling, kalo Abi tersinggung??
π§π» Eh tersinggung deng, tersingguuungg
π§π» Halah Halah
π§π» Ehehehehehehππ
Barakallahu fiik sayang..
Komentar
Posting Komentar