Jalan
Minggu-minggu terakhir aku banyak bersyukur. Karena jalan gunung ini diperbaiki. Biasanya setiap sekian menit sekali Ahmad terantuk setir motor, Maryam yang pegangan tangannya belum kuat terlepas-lepas. Aku menyetir pelan, meliuk kanan kiri, berdebar tiap mobil lewat di turunan atau tanjakan, harus menepi, kadang berhenti di jalan yang menukik itu dengan 2 bayi.
Tapi memang dasar masa oligarki begini melatih kami, setidaknya aku, untuk berprasangka buruk, "apa yang akan diperbuat perampok rakyat itu?". Jauh sebelum penjajah mampir dimana-mana, infrastruktur transportasi dibangun untuk memudahkan pedagang. Pedagang kain, kayu, rempah, hasil bumi, hari-hari ini hasil tambang, tanah pasir semua diperdagangkan. Termasuk manusia.
Jalan mulus di sisi gunung yang lain sudah diperbaiki sejak lama, diperhalus lagi, diperhalus lagi. Agar petani di atas gunung sana mudah aksesnya ke pasar dan fasilitas umum dibawah? Tentu saja. Tentu juga agar truk-truk pengangkut pasir lebih leluasa bergerak juga. Luar biasa, belasan, mungkin puluhan, ratusan, setiap hari, dikirim ke proyek toll nasional, sebagian dikirim ke ibu kota baru (menurut bapak mandor, aku tidak mengarang-ngarang).
Pekerja mengeduk lereng, menjadi tebing, pohon besar ditebang, sawah perkebunan diratakan. "Nanti bisa ditanami lagi." (Lagi-lagi kata Pak Mandor). Di halaman "rumah dinas"nya memang ada sepetak sawah bekas penggalian yang sudah ditanami kembali. Lebih banyak yang masih gundul, gersang, debu bertebaran. Tanah-tanah itu dijual sekian ratus ribu per truk di awal pembangunan. Hari ini hanya laku 70 ribu, bahkan 30 ribu per truk kecil.
Bentang alam berubah. Bukit jadi lembah. Sawah jadi Padang gersang. Hutan gundul habis. Truk pasir mondar mandir membuat upil hitam, entah berapa yang masuk ke paru-paru membuat sesak napas bayi dan orangtua. Masyarakat yang jauh dari pendidikan dan informasi itu menganggap enteng, sakit biasa. Alergi dingin. Gunung memang dingin. Ayolah, dimana kode genetik manusia tahan dingin itu. Ratusan tahun nenek moyang santai hidup di gunung yang dingin, anak cucu nya alergi dingin. Padahal sisi gunung yang itu makin panas, siang hari penduduk menyalakan kipas angin. Bersantai menikmati segepok uang hasil menjual kebun. Tidak akan terpikir esok dia bertani dimana lagi, belum soal selemparan bati di belakang rumahnya berubah menjadi jurang tinggi, membahayakan penghuni rumah. Ayam pegunungan yang santai terbang ke atas ke bawah pun tak akan selamat jika jatuh di jurang bekas tambang. Belum lagi retakannya.
"Kami ambil yang hitam, mbak. Pasir. Bukan tanah merah. Tidak akan longsor. Apalagi setelah diperbaiki nanti."
Sia-sia aku percaya, belum 1 jam berpindah tempat, dibalik bukit, tanah-tanah merah merekah. Retakannya terlihat menakutkan. Kami yang berniat foto-foto "pemandangan" diteriaki dari truk di bawah sana. Sopir nya melompat keluar truk "jangan foto!". Aku lari terbirit-birit. Lupakan soal badanku yang besar dan anakku yang sudah 2, tidak pantas lari-lari. Terlalu banyak menonton berita membuatku takut. Bagaimana jika aku celaka? Hanya gara-gara foto dan kepo.
Efeknya besar, jangan kira hanya penduduk sekitar saja. Jauh di hilir sungai sana, ratusan keluarga mengungsi tiap hujan, banjir. Air meluncur deras dari atas gunung, tidak ada yang menahan. Sudah 1 oktober belum hujan, maka kekeringan yang ada, sungai kering. Sumber air? Hei, bagaimanalah sumber air akan ada jika akar pohon yang menahan airnya tak ada?
Kembali ke jalan sisi gunung rumahku. Dengan jalan yang mulus ini, mudah sekali aku mengantar Maryam sekolah, wuuss wuuss, tidak takut terlambat, tidak takut lubang besar di turunan. Ibu yang selalu mengambil jalan memutar, lewat jalan truk pasir, akhirnya kembali lewat jalan ini. Mengulak barang dari pasar, ekonomi berputar. Dengan segala kemudahan itu, semoga niat pejabat ini murni. Semoga kami semua dilindungi.


Komentar
Posting Komentar