Sepotong Hati Yang Sisa





Aku terlahir dengan hati yang utuh. Sekalipun tak terlihat pantulannya, karena urat ekspresiku menghilang entah kemana. Tapi, jika kau benar-benar ingin tahu, aku punya sinar mata. Ia seringkali ingin berbohong, tapi tak pernah benar-benar bisa.

Aku terlahir dengan hati yang utuh. Dan sebegitu bodohnya, aku mengisinya dengan benda asing. Sebentuk rasa yang mendistorsi sedemikian rupa seluruh definisi tentang perasaan yang ku tahu. Bahagia, sedih, marah, jijik, dan takut.
Menjadi abu-abu. Membuat paradoks dalam perilakuku. Aku yang disini, aku yang disana. Aku yang bersama mereka aku yang bersamanya. Ini gila.

Aku terlahir dengan hati yang utuh. Di puncak kejumudan diberikan padaku sebuah kesimpulan. Ada cinta. Terpaksalah aku percaya. Dan pada saat yang sama, segalanya harus terpisah. Tak ada lagi bermain bersama. Tidak ada lagi belajar bersama. – haha, ini memang cerita tentang bocah kecil. Bocah kecil yang sok dewasa—maka benarlah perkataan Sang Pujangga Narsis itu, ada seseorang yang ketika ia pergi, ia juga membawa sepotong hatimu.

Aku terlahir dengan hati yang utuh. Tapi di dalamnya ada benda asing dan kutinggalkan ia jauh. Sepotong hati milikku yang ia isi tertinggal dan meredupkan sisanya. Jadilah aku hanya memiliki sepotong hati yang sisa dan redup.

Aku terlahir dengan hati yang utuh. Tapi kini aku hanya memiliki sepotong hati yang sisa dan redup. Banyak hati yang lewat dan tak kuhiraukan. Aku tak ingin sisa hati milikku menjadi mati. Entah tertinggal, entah meninggalkan. Mengambil sepotong hati itu dan galaplah diriku.

Aku terlahir dengan hati yang utuh.di antara yang terlewat itu, ada satu yang tak bisa tidak kupedulikan. Bagaimanalah ini? Berkali-kali ingin kulempar tapi ia terlalu barat. Berkali-kali ingin kubuang tapi aku terlalu takut. Takut jika kulempar salah, takut jika kupeduli salah. Maka biarlah kumatikan sisa hati milikku. Toh, jika terisi dan pergi, tak kurasakan sakitnya. Jika diambil, tak kurasakan terpisahnya. Jika dihabiskan pun, biarlah. Ia sudah mati.

Aku terlahir dengan hati yang utuh. Kumatikan sisa hatiku untuk melindungi diriku sendiri. Terserahlah aku egois. Aku akan menggunakan waktuku untuk menyerap banyak-banyak pemahaman hidup yang baik. Menyimpannya dalam memori otakku. Menjadikannya senjata agar aku bisa menjadi yang terbaik. Hingga pada saatnya, aku siap menerima sepotong hati yang baru.yang menghidupka sisa hati milikku yang mati. Memperbaiki segala kerusakannya seketika.

Aku terlahir dengan hati yang utuh. Dan esok lusa, hatiku akn kembali utuh.

Untuk kau yang membacanya. Jangan pernah mencoba. Jika ia tertinggal atau meninggalkan, tak hanya butuh air mata.


Sepotong Hati Yang Mati

Komentar

  1. Sisa sepotong hati ku , tidak ku matikan . dia mati karna yg lain . apakah aku masih bisa mencari senjata terbaik ku ? Ingat! Aku tidak mematikan nya , ia mati olh yg lain .

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagi yang tidak menyesal, ia bisa membuat senjata ampuh dan mematikan.
      bagi yang menyesal dan 'menangis setiap hari', hai, bahkan berdiri pun kau tidak mampu. jadi bagaimanalah senjata bisa kau buat??

      "ngga nyindir lo ya.. :P

      Hapus
    2. Lihat lah , mungkin hari ini kau benar .
      Tapi esok lusa , ketika pemahaman baik itu hadir.
      Maka hati yg mati biarkan lah mati , tidak ada guna nya menyiram bunga yg sudah mati bukan ? Saat nya menanam bunga baru .
      Dan dari sanalah senjata itu ku rangkai .
      Senjata yg terbuat dari 'air mata penyesalan '
      Bagaimana menurut mu ?
      Tidak kah itu sudah cukup hebat ?

      Hapus
    3. hebat sekali Ca.. sangat hebat. :)

      Hapus
  2. uh, aku tidak tau harus beerkata apa apa lagi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waris, Ali, dan Tembok Dapur

Cinta Pertamaku Itu

ROMANTISME