terimakasih kalian



Terimakasih sudah menyelipkan agenda menjenguk di tengah tengah agenda yang super penting kalian.
Terimakasih sudah menjaga agar orang-orang yang dengki tidak mengganggu kami.
Terimakasih sudah mengajarkan kedewasaan. Sehingga tak perlulah iri. Tak perlulah memberontak. Ketika jadwak kalian begitu membludak. Berangkat sebelum subuh –berpamitan tak lupa dengan pesanan pekerjaan untuk kami­- pulang jauh malam. Ke kota ini, ke kota itu. Mengurus ini, mengurus itu.

Terimakasih sudah mengatur waktu dengn baik. Bercerita saat kami kecil. Mengawasi saat kami mulai remaja dan labil. Tidak pernah marah, hanya mengingatkan.
Terimakasih sudah mengerti kami, percaya pada kami. Mendengarkan kami. Mendukung keputusan kami.
Terimakasih sudah membebaskan kami memilih. Selama tidak menyalahi pemahaman hidup yang baik.

Sungguh, kami mengerti. Jalan yang kalian tempuh tidak seperti yang lain. Ketika urusan kalian adalah kewajiban dan mengurus kami pun menjadi kewajiban pula, salah satu dari kalian memilih kami. Atau mengajak kami untuk melihat apa yang kalin kerjakan. Berharap kami lebih mahir melakukannya esok lusa.

Kami hanya merasa sedikit kesal. Ketika memprotes kalian di belakang. Bilang kalian tidak mungkin datang atau kalian tidak mungkin membolehkan. Atau menangis saat kami sedang berusaha mengatakan sesuatu di telepon, tapi kalian bilang, harus segera meluncur kesini, meluncur kesana. Tapi tak apa. Pada akhirnya kami juga akan mengerti. Toh, senenarnya kami bisa menyelesaikan masalah sendiri.

Bahkan, seringkali cukup bagi kami mendengar suara kalian 1 jam dalam seminggu. Itulah mengapa kami selalu tidak bisa menjawab. “ada apa, kak?” “tidak ada apa-apa” atau “ada kabar apa?” “ tidak. Tidak ada.” Sungguh kami baik-baik saja. Kami waswas berharap kalian tidak mengakhiri pembicaraan dan menutup telepon begitu tahu urusan kami tidak penting.kami hanya ingin kalian berbicara. Entah bercerita, memberi nasihat. Bertanya ini itu. Dan kalian telah melakukannya dengan baik. Kami merasa cukup. Sungguh.

Entah esok, entah lusa. Tetaplah jadi sahabat kami. Sekalipun kami telah hidup sendiri. Tetaplah bercerita, tetaplah bertanya. Agar kami tidak lupa dan terkendali.
Terimakasih sudah mengajak kami melihat-lihat jalan ini. Jalan yang terjal dan sulit. Tapi kamu percaya pada kalian, ada kebahagiaan tak terbatas di akhir jalan. Kami ingin menjadi seperti kalian. Entah esok. Entah lusa.

Dengan Sepenuh Cinta
Kakak FaZa

Komentar

  1. Jadi umi yg nanti fatimah versi selanjut nya akan menulis dg lebih extream dri ini . tidak lagi kota ini dan kota itu . bahkan negara ini dan negara itu . hebat bukan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. iya hebat. tapi mereka akan menulis tidak dengan sepenuh cinta. tapi
      'sepenuh ke-lesohan.'

      nggak ah.

      Hapus
    2. Penuh kelosah bagi umi nya , tapi tidak bagi abi nya . hahaha :)
      Padahal abi nya masih sebuah siluet senja.

      Hapus

Posting Komentar